Senin, 04 November 2013

PERAN SISTEM SUBAK DALAM PEMBANGUNAN DI SEKTOR PERTANIAN DI PULAU BALI DALAM PELITA I HINGGA PELITA IV

Andika Yudhistira Pratama    1005773
Daniel Ramadhan                  1005879

Indonesia merupakan negara agraris di mana penduduknya sebagian besar matapencaharian utamanya dalam sektor pertanian. Hal ini tersebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Salah satu diantara wilayah tersebut adalah pulau Bali.
Masyarakat Bali sebagian bermata pencaharian dalam sektor pertanian. Di dalam sektor pertanian ini ada yang bercocok tanam, di ladang maupun di sawah. Jenis tanaman yang ditanam bpun bermacam-macam. Ada yang bertanam padi, palawija, buah-buahan bahkan ada pula yang menanam cengkeh, vanili, coklat, kopi, kelapa, dan lain-lain.
Masyarakat Bali mengenal organisasi pengairan yang disebut Subak. Subak adalah lembaga atau kesatuan dari pemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasinya dari satu sumber atau bendungan tertentu. Lembaga ini dibentuk oleh petani pemakai air ata pengatur dan penjaga keamanan tanaman. Karena pertanian di Bali tradisi basah dan kering, Subak juga dikenal 2 macam, yaitu Subak Tanah Basah biasanya dipakai untuk pengairan sawah, dan Subak Abian untuk mengairi tanah kering seperti kebun atau ladang.
Subak ini terkait hal-hal seperti:
1.      Kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu,
2.      Tempat tinggal,
3.      Tanah pertanian dalam wilayah
4.      Sistem kasta atau wangsa
5.      Ikatan kekerabatan atas dasar hubungan darah dan perkawinan,
6.      Keanggotaan suatu sekeha,
7.      Kesatuan administrasi.
Perkembangan sektor pertanian sejak Pelita I sampai Pelita IV menunjukan trend meningkat dan berkembang dari segi produktivitas hasil-hasilnya. Peningkatan dan perkembangan ini disebabkan oleh penyediaan fasilitas yang dibangun oleh pemerintah terutama berupa bendungan-bendungan irigasi yang permanen agar penggunaan dan distribusi pengairan di sawah-sawah efisien dan efektif. Pembangunan bendungan-bendungan irigasi ternyata mendapat respons positif bagi petani pemakai air di Bali melalui kelembagaan tradisional yang mereka bentuk dan warisi sejak berabad-abad lamanya yaitu, terkenal dengan sebutan “Subak” ( I Gede Puana, ed., 1993 : 1-15; 33-47 dalam Wirawan, dkk 1998: 71)

Respons lembaga-lembaga tradisional yang tumbuh dari lapisan bawah masyarakat yang bercorak agraris di Bali sangat positif menerima program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah respons secara struktural kultural yang muncul ternyata membawa dampak terhadap perkembangan beberapa sektor yang menjadi dominan dan menjadi ciri perkembangan yang terjadi di Bali sejak pelita I sampai pelita IV.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar