Senin, 04 November 2013

Pembangunan di Venezuela Pada Masa Hugo Chavez 1999-2013

Adytia Mara Yuda                  1006017

Ridho Yulian Mulyastanto     1001518

Pada dasarnya pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah serta terencana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Dewasa ini sebuah kata yakni pembangunan memang sudah tidak dapat dipisahkan dari keseharian masyarakat dari mulai di perkotaan hingga pedesaan, baik di negara maju, negara berkembang maupun negara tertinggal. Sebagai sebuah fenomena yang tidak habis-habisnya dibahas dalam keberlangsungan hidup manusia, pembangunan sudah melekat sebagai salah satu ciri kehidupan manusia yang kerap mengalami perubahan menurut berbagai dimensi yang ada.
Sebuah masa dimana terjadi perebutan pengaruh terhadap negara – negara di dunia yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet yang terkenal dengan nama Perang Dingin telah banyak berpengaruh terhadap keberlangsungan pembangunan di negara – negara berkembang. Pengaruh – pengaruh baik postitif maupun negatif silih berganti mempengaruhi negara-negara yang menjadi rebutan kedua negara adidaya tersebut. Namun kondisi pun berbalik setelah runtuhnya Uni Soviet, maka banyak negara – negar yang memerdekakan diri dari Uni Soviet. Sehingga dengan hal itulah awal mula berkembang sebuah konsep yang bernama negara dunia ketiga, dimana negara – negara di luar negara adidaya yang mencoba untuk berkembang baik dari segi ekonomi, politik bahkan pembangunan. Akan tetapi walau Uni Soviet sudah membubarkan diri, dengan ideologi komunisme dan sosialisme yang dianut oleh Uni Soviet kala itu rupanya belum mati. Hal tersebut bahkan dianut oleh pemimpin negara dari Amerika Latin yang menganut ideologi sosialisme guna membangun sebuah negara yang telah terpuruk di Amerika Selatan. Sosok tersebut yakni Hugo Chavez seorang pemimpin dari Venezuela yang membangun Venezuela dari keterpurukan ekonomi di akhir tahun 1990.
Seorang pemimpin yang sangat bertolak belakang dengan mayoritas pemimpin dunia yang bisa dikatakan berkiblat pada Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang mengontrol dunia selepas runtuhnya Uni Soviet. Dengan menganut sosialisme kerakyatan atas inspirasi dari tokoh yang disukainya yakni Simon Bolivar, Chavez membangun ulang Venezuela dengan Revolusi Bolivarian nya. Selama Chavez menjabat sebagai presiden Venezuela , dia dapat dikatakan sukses mebangun Venezuela dari keterpurukan, bahkan ditengah kondisi masyarakat yang mengalami kemiskinan. Sejak 1999 hingga Chavez wafat tahun 2013, dia telah menghasilkan sbeberapa rencana yang dapat digagas bahkan diterapkan dengan baik di Venezuela. Chavez membuat beberapa program pemerintahan diantaranya:
1.      Pembaruan ekonomi
2.      Reformasi Sistem Keuangan Negara.
3.      Pembentukan ALBA (Alternativa Bolivariana Paralas Americas).
4.      Pembentukan Bank Selatan.
5.      Menangkal Propaganda Amerika Serikat.
6.      Mendirikan Dana Pembangunan Nasional (FONDED).
7.      Diversifikasi ekonomi. Lebih dipusatkan untuk mengurangi ketergantungan ekspor minyak ke AS.
8.      Mendirikan BUMN.
9.      Nasionalisasi perusahaan – perusahaan.
10.  Pembentukan Aliansi Global. Didirikan dalam rangka upaya untuk membebaskan Venezuela dari mekanisme keuangan kapitalis (IMF, WTO dan Bank Dunia).
11.  Pembaruan kontrak minyak Venezuela. Meningkatkan investasi ekonomi dengan membangun cadangan minyak di wilayah Orinoco yang kaya akan minyak. Hal itu dilakukan untuk mendapat keuantungan attas produksi dari perusahaan asing yakni Chevron dan Repsol di Venezuela.
Dengan berbagai kebijakan dan program yang dilakukan Chavez sejak menjabat Presiden Venezuela terjadi peningkatan terutama dalam bidang ekonomi. Ekonomi Venezuela meningkat secara signifikan.    Hingga    tahun    2006, pertumbuhan    ekonomi    Venezuela mencapai lebih dari 9%.  Pertumbuhan terkuat justru berada di sektor non minyak, terutama jasa konstruksi. Didalamnya meliputi proyek  pembangunan masyarakat  yang berupa pembangunan rumah-rumah untuk rakyat. Pada tahun 2005, Venezuela menjadi negara dengan tingkat GDP (Gross Domestic Product) atau jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun yang merupakan tertinggi  di  Amerika  Latin  karena pertumbuhan ekonominya sebesar 9,3%.
            Mengenai teori yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah mengenai teori modernisasi dan teori dependensi. Kedua teori ini merupakan teori-teori yang berhubungan dengan transisi pembangunan di negara-negara termasuk yang akan di bahas kali ini yakni Amerika Latin, khususnya Venezuela. Pada dasarnya, teori modernisasi merupakan jenis teori pertumbuhan neo-klasik teori menyarankan agar Dunia Ketiga (negara berkembang) melakukan pembangunan ekonomi, dengan meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional yang telah berlaku pada masa itu. Pada awalnya teori modernisasi bertujuan baik untuk membantu memperbaiki kondisi perekonomian negara berkembang dengan bantuan modal dari negara kaya. Teori modernisasi memberikan pernyataan tentang perlunya bantuan asing bagi pembangunan ekonomi negara berkembang. Bantuan asing dalam hal ini yakni Amerika Serikat. Dunia Ketiga membutuhkan investasi produktif dan pengenalan nilai-nilai modern, maka Amerika Serikat dan negara maju lainnya lah yang dapat membantu dengan mengirimkan tenaga ahli, mendorong para pengusaha untuk melakukan investasi di luar negeri, dan memberikan bantuan untuk negara Dunia Ketiga. Akan tetapi pada jika ditarik analisis dari system pembangunan yang dilakukan oleh Venezuela terkesan tidak sesuai dengan teori modernisasi karena hal tersebut akan mempersulit Venezuela sendiri, karena Venezuela merupakan salah satu Negara di Amerika Latin yang mengalami banyak kerugian akibat keterkaitannya dengan negara maju yang dalam hal ini Amerika Serikat. Hal tersebut pernah terjadi saat kurun waktu 1971-1998 dimana komoditi minyak bumi banyak dieksploitasi oleh asing. Menurut Margaretha dalam [http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1106&type=4] menyatakan bahwa Perekonomian liberal yang diterapkan oleh lembaga moneter internasional di negara-negara di Amerika Latin yang menempatkan perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi selama ratusan tahun di negara-negara Amerika Latin telah mengeksploitasi sumber daya alam di negara-negara itu.
Sementara pada praktik pembangunannya Venezula lebih cenderung kepada teori dependensi, karena pada dasarnya teori dependensi merupakan teori yang muncul sebagai tanggapan terhadap  teori modernisasi. Teori ini  muncul karena didasari fakta akan lambatnya pembangunan pada negara dunia ketiga (negara berkembang), khususnya Amerika Latin walaupun telah diberikan modal investasi dari negara kaya (Amerika Serikat). Permodalan dari negara kaya ternyata tidak mampu memberikan keuntungan bagi negara dunia ketiga, terutama dalam hal pertumbuhan ekonomi, namun justru menambah kemiskinan di wilayah tersebut. Hal itu terjadi pada Venezuela terutama sebelum masa kepemimpinan Chavez. Teori dependensi dapat dikatakan menawarkan sebuah solusi bagi negara berkembang untuk sebaiknya melepaskan diri dari hegemoni negara pusat yang memberikan modal selama ini.  Jika tidak, hal ini akan hanya membuat keuntungan bagi negara maju dan tidak menguntungkan bagi wilayah periphery. Wilayah periphery, dalam kasus ini adalah negara-negara Amerika Latin justru akan berkemban ketika hubungannya dengan Amerika Serikat mulai melemah bahkan dihilangkan sama sekali.
Setelah melihat sedikit sejarah serta pengertian dari kedua teori pembangunan tersebut, dan kebijakan pembangunan yang diterapkan oleh Hugo Chavez di Venezuela, Negara ini menerapkan teori dependensi dimana teori ini merupakan teori yang menganjurkan agar negara berkembang memutuskan hubungan dan keterikatan mereka dengan negara sentral. Negara berkembang seperti Venezuela ini sudah mempunyai model pembangunan sendiri untuk melaksanakan dan mencapai pembangunan yang mandiri dan terbebas dari ketergantungan. Namun kesuksesan penerapan teori ini di Venezuela tidak lepas dari peran dan partisipasi masyarakatnya dalam melakukan revolusi sosial selain partisipasi masyarakat, peran kepemimpinan juga sangat mendukung dalam melepaskan ketergantungan. Sosok pemimpin yang berani dibutuhkan untuk melakukan perubahan  besar-besaran dan menyeluruh, mencakup bidang politik, ekonomi, sosial, serta ideologi negara.
Sudah selayaknya negara Indonesia banyak belajar dari Venezuela sebagai negara dunia ketiga. Venezuela yang dipimpin Hugo Chavez telah berani membendung munculnya kekuasaan di Venezuela yang lebih hebat lagi. Revolusi telah mengantarkan Venezuela pada harga diri dan kemerdekaan sejati, sebuah capaian yang diraih melalui perjuangan panjang serta kaya akan nilai dan layak ditiru oleh dimanapun negara di dunia yang dijadikan objek Neo liberalisme berkedok globalisasi, termasuk Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar