Senin, 21 Januari 2013

PEMBANGUNAN EKONOMI JEPANG PADA MASA RESTORASI MEIJI



Ferry Noviana S  0705458


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas kehendak dan karunia-Nya lah makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Serta tak lupa penulis sampaikan salawat serta salam kepada nabi besar kita Nabi Muhamad S.A.W, sahabatnya, dan sampai kepada kita semua.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi Antropologi Pembangunan dengan judul “Pembangunan Ekonomi Jepang pada masa Restorasi Meiji”. Dalam penyelesaian makalah ini,  penulis banyak mengalami kesulitan terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan dan buku sumber. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari sebagai seorang mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih perlu banyak belajar dalm penulisan makalah, bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dari para pembaca yang dapat membangun agar dalam penyusunan makalah selanjutnya menjadi lebih baik dan bermanfaat dimasa yang akan datang.
Harapan penulis, mudah-mudahan makalah yang sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.. Amin Ya Rabal’alamin.

Bandung,  Januari 2013

Penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................      i
DAFTAR ISI..............................................................................................      ii
BAB      I      PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang Masalah..................................................      1
1.2    Rumusan Masalah............................................................      2
1.3    Tujuan Penulisan..............................................................      2
1.4    Metode & Teknik Penulisan............................................      2
1.5    Sistematika Penulisan......................................................      3
BAB    II      LANDASAN TEORI
2.1 Teori Modernisasi............................................................      4
BAB   III     PEMBANGUNAN EKONOMI JEPANG PADA
                     MASA RESTORASI MEIJI ..............................................      6
                    
BAB   IV     PENUTUP
                     4.1  Kesimpulan......................................................................      10
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................      11
LAMPIRAN...............................................................................................      12



BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Sepanjang sejarah, kekaisaran Jepang beberapa kali mengalami masa pasang surut. Dua periode penting tersebut adalah masa Kaisar Meiji (1868-1912) dan Kaisar Hirohito (1926-1989). Pada zaman Meiji, Jepang melakukan reformasi yang kemudian dikenal dengan Restorasi Meiji.
Restorasi Meiji dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin, Revolusi, atau Pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir zaman Edo dan awal zaman Meiji. Sebelum 1853 Jepang betul–betul merupakan negara yang sangat tertutup dan diperintah dengan cara yang sangat feodalistik. Dorongan modernisasi Jepang berawal dari hadirnya angkatan laut Amerika dibawah pimpinan Laksamana Perry. Beliau minta pintu gerbang Jepang dibuka dan minta berunding dengan tujuan agar Jepang membuka diri terhadap pihak asing, berdagang dan membolehkan kapal asing merapat di pelabuhan Jepang.
Mulai saat itulah bangsa Jepang terbuka matanya bahwa ada kekuatan-kekuatan besar diluar mereka. Semangat Bushido para samurai dengan pedang-pedangnya ditantang untuk mampu melawan kekuatan Amerika, orang kulit putih, orang Barat (sekalipun orang Amerika itu datangnya dari Timur).
 
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah utama dalam makalah penulis, yaitu “Bagaiamana Pembangunan Ekonomi Jepang Pada Masa Restorasi Meiji ?”. Untuk mengarahkan penulisan dan menghindari meluasnya permasalahan yang hendak di kaji, maka penulis membatasi masalah dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut
1.    Bagaimana latar belakang terjadinya restorasi Meiji?
2.    Bagaimana pengaruh Restorasi Meiji terhadap perekonomian masyarakat Jepang?
3.    Bagaimana dampak social yang ditimbulkan dari restorasi Meiji terhadap masyarakat Jepang?

1.3    Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami:
1.    Untuk mengetahui secara jelas latar belakang kebangkitan perekonomian masyarakat Jepang pada zaman Meiji.
2.    Untuk mengkaji pengaruh restorasi Meiji terhadap perekonomian Masyarakat Jepang.
3.    Untuk mengkaji dampak social yang ditimbulkan dari restorasi Meiji.



1.4    Metode  & Teknik Penulisan
Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif, berupa penelitian dengan membuat deskripsi mengenai suatu bentuk keadaan atau kejadian. Adapun teknik yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah teknik studi kepustakaan, yaitu mencari sumber-sumber dari buku-buku yang relevan dengan topik yang dibahas. Selain itu, digunakan juga sumber internet sebagai referensi penunjang yang melengkapi sumber-sumber kepustakaan.

1.5    Sistematika Penulisan
Pada makalah ini penulis akan menjelaskan hasil studi literatur yang penulis temukan. Adapun sistematika dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.     Bab I Pendahuluan:
Bab ini berisi tentang uraian latar belakang masalah, perumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
b.    Bab II Landasan Teori
Pada bab kedua penulis akan membahas landasan teori yang relevan dengan pembahasan inti, yaitu tentang Teori Mordenisasi.
c.  Bab III Pembangunan Ekonomi Jepang pada masa Restorasi Meiji
Dalam bab ketiga ini, penulis akan memaparkan dan menjelaskan tentang data yang penulis peroleh baik dari buku-buku sumber, internet dan sumber lainnya yang mendukung judul dari makalah ini, yaitu Pembangunan Ekonomi Jepang pada masa Restorasi Meiji.
d.  Bab IV Penutup
Pada bab keempat ini merupakan bagian akhir dari makalah ini dan merupakan kesimpulan dari isi materi.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Teori Modernisasi
Modernisasi diartikan sebagai proses transformasi. Dalam rangka mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total diganti dengan seperangkat struktur dan nilai-nilai modern. Modernisasi merupakan proses sistematik. Modernisasi melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk di dalamnya industrialisasi, diferensiasi, sekularisasi, sentralisasi dsb. Ciri-ciri pokok teori modernisasi :
1.    Modernisasi merupakan proses bertahap.
2.    Modernisasi juga dapat dikatakan sebagai proses homogenisasi.
3.    Modernisasi terkadang mewujud dalam bentuk lahirnya, sebagai proses Eropanisasi dan Amerikanisasi, atau modernisasi sama dengan Barat.
4.    Modernisasi juga dilihat sebagai proses yang tidak bergerak mundur.
5.    Modernisasi merupakan perubahan progresif
6.    Modernisasi memerlukan waktu panjang. Modernisasi dilihat sebagai proses evolusioner, dan bukan perubahan revolusioner.
Implikasi kebijaksanaan pembangunan yang perlu diikuti Dunia Ketiga dalam usaha memodernisasikan dirinya :
1.    Negara Dunia Ketiga perlu melihat dan menjadikan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat sebagai model dan panutan.
2.    Teori modernisasi menyarankan agar Dunia Ketiga melakukan pembangunan ekonomi, meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional, dan melembagakan demokrasi politik.
3.    Teori modernisasi mampu memberikan legitimasi tentang perlunya bantuan asing, khususnya dari Amerika Serikat. Dunia Ketiga membutuhkan investasi produktif dan pengenalan nilai-nilai modern, maka AS dan negara maju lainnya dapat membantu dengan mengirimkan tenaga ahli, mendorong para pengusaha untuk melakukan investasi di luar negeri, dan memberikan bantuan untuk negara Dunia Ketiga.
Ada beberapa varian teori Modernisasi, diantaranya teori Harrod-Domar, teori McClelland, teori Weber, teori Rostow, teori Inkeles. Permasalahan IMF dalam paper ini lebih mengarah pada teori Rostow. Rostow menyebutkan jika satu negara hendak mencapai pertumbuhan ekonomi yang otonom dan berkelanjutan, maka negara tersebut harus memiliki struktur ekonomi tertentu. Umumnya permasalahan yang dimiliki negara Dunia Ketiga dalam mencapai tingkat investasi produktif yang tinggi, adalah keterbatasan sumber daya modal. Rostow memberi jawaban atas permasalahan yang dihadapi Dunia Ketiga mengenai kecilnya dana investasi produktif, yaitu pada kemungkinan penyediaan bantuan asing, yang berupa bantuan modal, teknologi, dan keahlian, bagi negara Dunia Ketiga.



BAB III
PEMBANGUNAN EKONOMI JEPANG PADA MASA RESTORASI MEIJI

Pembangunan ekonomi negara Jepang dimulai sejak tahun 1868 saat lahir sebuah polotik penting yang dikenal sebagai pembaharuan “Meiji”. Tapi bukan berarti bahwa Jepang sebelum tahun itu disebut Negara primitive, akan tetapi dalam produksi mesin dan pembaharuan terjadi setelah pembaharuan Meiji.  Perekonomian utama pemerintahan Meiji dalam periode ini ialah terciptanya prasarana Negara ini, dengan membangun jalan kereta api antara Tokyo dan Yokuhama sampai Kobe terselesaikan. Tidak hanya itu pemerintah juga memodernisasi jaringan komunikasi lewat jasa pos dan telegraf.
Dalam periode zaman Tokugawa Jepang merupakan masyarakat yang cukup terpelajar dari budaya dan sastra dengan buku yang berlimpah-limpah, dan salah satunya adalah ajaran dari Kong Hu Cu yang hanya satu-satunya pengajaran yang meluas dalam periode Tokugawa. Dan Jitsugaku (pelajaran praktis) sedamgkan perekonomian zaman tokugawa adalah feodal dan mempunyai kemiripan dengan perekonomian pertenggahan Eropa. Sehingga mengambil keputusan pada dasarnya perekonomian subsistem dan bahwa setiap perdangangan sebagian besar dengan sistem barter dan jarang terdapat pengunaan uang. Tapi perekonomian Tokugawa menunjukkan uang dan kredit. Bentuk uang biasanya uang logam sedangkan kredit yang sering digunakan oleh pedagang-pedagang Osaka. Pusat transaksi kredit adalah Ryogaeya, akan tetapi fungsi Ryogaeya tidak hanya melakukan pertukaran uang. Mereka mempunyai fungsi, misalnya: menerima deposito, meminjamkan uang dan mengeluarkan surat perintah pembayaran khususnya di Osaka sering menciptakan uang. Pada filosofi ekonomi pada birokrasi Tokugawa menitik beratkan pertanian sebagai sumber utama kekayaan sedangkan perdagangan dianggap tidak produktif dan perdangangan mendapat posisi terendah dalam masa Tokugawa. Pada periode Tokugawa di Jepang dikenalkan ekonomi uang yang dipengaruhi oleh dua faktor khusus: semua samurai di wajibkan tinggal di istana, markas besar pemerintah pindah dari pertanian, mereka menjadi rentenir dan sumbangan penting lainnya untuk perdagangan adalah Sankin kotai (sistem jaminan) sering dianggap perdagangan Tokugawa.
Sedangkan Jepang berkembang karena feodalisme mendahului periode modern, karena feodalisme melindungi perdagangan karena bangsa yang kuat militernya merupakan kebijakan yang sama pentingnya dengan pembangunan ekonomi. Dan pembakuan-pembakuan politik menghapus kekuasaan Daimyo (penguasaan militer) dan membangun suatu negara yang mempunyai pemerintahan pusat. Hal ini dicapai melalui Hanseki hokan (dipulihkannya pendaftaran tanah) dan Haihan Chiken (dihapuskannya wilayah-wilayah pembayar upeti). Tujuan utama pemerintah baru adalah untuk menciptakan suatu angkutan darat moderndan dipersenjatai modern.
Menurut Learner (Bintoro, 1987:2.2)  modernisasi adalah suatu proses yang sisteimatis yang menyangkut perubahan kependudukan, ekonomi, politik, komunikasi dan sektor kebudayaan dalam suatu masyarakat. Untuk menjadi modern, anggota masyarakat harus memiliki mobilitas baik dalam arti fisik maupun psikis. Mobilitas fisik berarti kebergerakan anggota masyarakat termasuk perpindahan dari desa ke kota.
Hubungan dengan barat tidak hanya menberikan pimpinan jepang suatu model dari modernisasi sehingga cukup masuk akal untuk beranggapan bahwa jika tidak mengambil langkah-langkah pencegahan maka Jepang akan menjadi koloni. Ancaman barat menciptakan kesadaran dan keharusan untuk bertindak menciptakan pembaharuan-pembaharuan yang dinamakan ”Revolusioner” dalam arti menghancurkan sistem feodal dan membuka jalan bagi sistem ekonomi dan politik baru.
Pembaharuan Meiji tidak lengkap sebagai revolusi terutama kerena bukan revolusi dari kaum yang diperintah, tetapi revolusi dalam samurai dan dapat dikatakan sebagai perebutan kekuasaan dalam kelas memerintah. Sehingga upaya-upaya yang mereka lakukan mencerminkan campuran yang aneh-aneh dari strategi modernisasi dan pelestarian. Kemajuan ekonomi sustu negara sangat dipengaruhi oleh sikap rakyat-rakyatnya terhadap kerja dan konsumsi, karena jika suatu negara dapat maju dengan cepat, harus mempunyai banyak orang yang hemat dan mau bekerja keras. Dalam suatu perekonomian kapitalis, produkivitas perusahaan merupakan penentu utama bagi produktivitas nasional dan penentu lainnya adalah manajemen. Sedangkan untuk mencapai produktivitas tinggi secara keseluruhan, unit-unit ekonomi swasta memerlukan lingkungan yang baik.
Pembangunan ekonomi Jepang dalam banyak hal merupakan prestasi mengesankan. Suatu negeri feodal agraris yang tidak punya berbagai sumber daya diubah menjadi negara industri yang makmur dalam jangka waktu pendek, karena kemajuan ekonomi Jepang juga merupakan asal mula kerusakan lingkungan (pencemaran dan kebisingan). Masalah-masalah pembangunan ekonomi Jepang mestinya dapat dihindari seandainya digunakan suatu sistem ekonomi sosialis dan ada alasan kuat untuk percaya bahwa tingkat pertumbuhan sangat lambat. Bagi kebanyakan ekonomi praktis, masalah kebahagian itu terlalu kabur. Karena itu masalah ini sangat penting sebagai falsafah Jepang, tetapi tidak bagi pemimpin zaman Meiji.
Namun dapat diajukan argumentasi bahwa Jepang tidak punya pilihan lain pada masa itu, ketika negara-negara barat mengancam kemerdekaan bangsa-bangsa asia dengan kekuatan militernya yang unggul. Meskipun begitu ada jalur-jalur tindakan lain yang terbuka bagi para pemimpin zaman Meiji membangun kekuatan militer untuk tujuan pertahanan dan tidak mengunakannya untuk agresi. Karena akan mengundang kesulitan di masa depan pada waktu zaman Meiji kepada negara-negara tetangga. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa politik damai tidak akan membawa kearah kehancuran nasional seperti yang mereka yakini.



BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Restorasi Meiji merupakan usaha besar-besaran kaisar Meiji untuk menciptakan Jepang baru, yaitu transformasi dari negara yang terisolasi dan miskin menjadi negara yang modern. Restorasi Meiji membawa perubahan besar dalam kehidupan bangsa Jepang, terutama pendidikan. Sebelum Restorasi Meiji, Jepang melaksanakan pendidikannya berdasarkan sistem masyarakat feodal, yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah kuil).
Dalam kurun waktu bergulirnya Restorasi Meiji (Meiji Ishin) tahun 1868 dan dekade sesudahnya, bangsa Jepang telah membuktikan diri kepada dunia sebagai bangsa yang memiliki kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi maju yang dapat disejajarkan dengan Amerika dan negara maju lainnya. Hal yang terpenting dari restorasi ini adalah restorasi dibidang pendidikan, yaitu mengubah sistem pendidikan dari tradisional menjadi modern (saat itu dimulai dengan mengadopsi sistem Jerman), program wajib belajar, mengirim mahasiswa Jepang untuk belajar ke luar negeri (ke Francis dan Jerman), dan meningkatkan anggaran sektor pendidikan secara drastis.


DAFTAR PUSTAKA

A.      Sumber Buku
Kunio, Yoshihara. (1985). Pembangunan Ekonomi Jepang. Jakarta : Universitas Indonesia.

Lauer, Robert  H. (1993). Persepektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta : Rineka Cipta.

Suwarsono, dan So, Alvin Y. (1994). Perubahan sosial dan pembangunan, teori-teori modernisasi, dependensi, dan sistem dunia. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.

Tjokrohamidjojo, Bintoro. 1987. Administrasi Pembangunan, Jakarta : Karunika.

B.       Sumber Internet
----------. (2010). Restorasi Meiji. [Online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/ wiki/ Restorasi_Meiji. [8 November 2010]




ARTIKEL

Pembangunan Ekonomi Jepang pada masa Restorasi Meiji


Pembangunan ekonomi negara Jepang dimulai sejak tahun 1868 saat lahir sebuah polotik penting yang dikenal sebagai pembaharuan “Meiji”. Tapi bukan berarti bahwa Jepang sebelum tahun itu disebut Negara primitive, akan tetapi dalam produksi mesin dan pembaharuan terjadi setelah pembaharuan Meiji.  Perekonomian utama pemerintahan Meiji dalam periode ini ialah terciptanya prasarana Negara ini, dengan membangun jalan kereta api antara Tokyo dan Yokuhama sampai Kobe terselesaikan. Tidak hanya itu pemerintah juga memodernisasi jaringan komunikasi lewat jasa pos dan telegraf.
Dalam periode zaman Tokugawa Jepang merupakan masyarakat yang cukup terpelajar dari budaya dan sastra dengan buku yang berlimpah-limpah, dan salah satunya adalah ajaran dari Kong Hu Cu yang hanya satu-satunya pengajaran yang meluas dalam periode Tokugawa. Dan Jitsugaku (pelajaran praktis) sedangkan perekonomian zaman tokugawa adalah feodal dan mempunyai kemiripan dengan perekonomian pertenggahan Eropa. Sehingga mengambil keputusan pada dasarnya perekonomian subsistem dan bahwa setiap perdangangan sebagian besar dengan sistem barter dan jarang terdapat pengunaan uang. Tapi perekonomian Tokugawa menunjukkan uang dan kredit. Bentuk uang biasanya uang logam sedangkan kredit yang sering digunakan oleh pedagang-pedagang Osaka. Pusat transaksi kredit adalah Ryogaeya, akan tetapi fungsi Ryogaeya tidak hanya melakukan pertukaran uang. Mereka mempunyai fungsi, misalnya: menerima deposito, meminjamkan uang dan mengeluarkan surat perintah pembayaran khususnya di Osaka sering menciptakan uang. Pada filosofi ekonomi pada birokrasi Tokugawa menitik beratkan pertanian sebagai sumber utama kekayaan sedangkan perdagangan dianggap tidak produktif dan perdangangan mendapat posisi terendah dalam masa Tokugawa. Pada periode Tokugawa di Jepang dikenalkan ekonomi uang yang dipengaruhi oleh dua faktor khusus: semua samurai di wajibkan tinggal di istana, markas besar pemerintah pindah dari pertanian, mereka menjadi rentenir dan sumbangan penting lainnya untuk perdagangan adalah SANKIN KOTAI (sistem jaminan) sering dianggap perdagangan Tokugawa. Sedangkan Jepang berkembang karena feodalisme mendahului periode modern, karena feodalisme melindungi perdagangan karena bangsa yang kuat militernya merupakan kebijakan yang sama pentingnya dengan pembangunan ekonomi. Dan pembakuan-pembakuan politik menghapus kekuasaan DAIMYO (penguasaan militer) dan membangun suatu negara yang mempunyai pemerintahan pusat. Hal ini dicapai melalui HANSEKI HOKAN (dipulihkannya pendaftaran tanag) dan HAIHAN CHIKEN (dihapuskannya wilayah-wilayah pembayar upeti). Tujuan utama pemerintah baru adalah untuk menciptakan suatu angkutan darat moderndan dipersenjatai modern.
Menurut Learner (Bintoro, 1987:2.2)  modernisasi adalah suatu proses yang sisteimatis yang menyangkut perubahan kependudukan, ekonomi, politik, komunikasi dan sektor kebudayaan dalam suatu masyarakat. Untuk menjadi modern, anggota masyarakat harus memiliki mobilitas baik dalam arti fisik maupun psikis. Mobilitas fisik berarti kebergerakan anggota masyarakat termasuk perpindahan dari desa ke kota. Teori modernsasi Baru sengaja menghindar untuk memperlakukan nilai-nilai tradisional dan modern sebagai dua pengkat sistem nilai yang secara total bertolak belakang. Kedua perangkat sistem nilai tersebut bukan saja dapat saling mewujud saling berdampingan, tetapi bahkan dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, tidak lagi melihat bahwa nilai tradisional merupakan faktor penghambat pembangunan, bahkan sebaliknya, kajian baru ini secara sungguh-sungguh hendak berusaha menunjukkan sumbangan positif yang dapat diberikan oleh sistem nilai tradisional.
Hubungan dengan barat tidak hanya menberikan pimpinan jepang suatu model dari modernisasi sehingga cukup masuk akal untuk beranggapan bahwa jika tidak mengambil langkah-langkah pencegahan maka Jepang akan menjadi koloni. Ancaman barat menciptakan kesadaran dan keharusan untuk bertindak menciptakan pembaharuan-pembaharuan yang dinamakan ”Revolusioner” dalam arti menghancurkan sistem feodal dan membuka jalan bagi sistem ekonomi dan politik baru. Pembaharuan Meiji tidak lengkap sebagai revolusi terutama kerena bukan revolusi dari kaum yang diperintah, tetapi revolusi dalam samurai dan dapat dikatakan sebagai perebutan kekuasaan dalam kelas memerintah. Sehingga upaya-upaya yang mereka lakukan mencerminkan campuran yang aneh-aneh dari strategi modernisasi dan pelestarian. Kemajuan ekonomi sustu negara sangat dipengaruhi oleh sikap rakyat-rakyatnya terhadap kerja dan konsumsi, karena jika suatu negara dapat maju dengan cepat, harus mempunyai banyak orang yang hemat dan mau bekerja keras. Dalam suatu perekonomian kapitalis, produkivitas perusahaan merupakan penentu utama bagi produktivitas nasional dan penentu lainnya adalah manajemen. Suatu negeri feodal agraris yang tidak punya berbagai sumber daya diubah menjadi negara industri yang makmur dalam jangka waktu pendek, karena kemajuan ekonomi Jepang juga merupakan asal mula kerusakan lingkungan (pencemaran dan kebisingan). Masalah-masalah pembangunan ekonomi Jepang mestinya dapat dihindari seandainya digunakan suatu sistem ekonomi sosialis dan ada alasan kuat untuk percaya bahwa tingkat pertumbuhan sangat lambat. Bagi kebanyakan ekonomi praktis, masalah kebahagian itu terlalu kabur. Karena itu masalah ini sangat penting sebagai falsafah Jepang, tetapi tidak bagi pemimpin zaman Meiji.
Namun dapat diajukan argumentasi bahwa Jepang tidak punya pilihan lain pada masa itu, ketika negara-negara barat mengancam kemerdekaan bangsa-bangsa asia dengan kekuatan militernya yang unggul. Meskipun begitu ada jalur-jalur tindakan lain yang terbuka bagi para pemimpin zaman Meiji membangun kekuatan militer untuk tujuan pertahanan dan tidak mengunakannya untuk agresi. Karena akan mengundang kesulitan di masa depan pada waktu zaman Meiji kepada negara-negara tetangga. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa politik damai tidak akan membawa kearah kehancuran nasional seperti yang mereka yakini.


REFERENSI :
Kunio, Yoshihara. (1985). Pembagunan Ekonomi Jepang. Jakarta : Universitas Indonesia.
Lauer, Robert  H. (1993). Persepektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta : Rineka Cipta.
Suwarsono, dan So, Alvin Y. (1994). Perubahan sosial dan pembangunan, teori-teori modernisasi, dependensi, dan sistem dunia. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.
Tjokrohamidjojo, Bintoro. 1987. Administrasi Pembangunan, Jakarta : Karunika.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar