Senin, 09 Januari 2012

PENDIDIKAN DAN EKONOMI (Mahalnya Pendidikan di Indonesia)



Oleh: Arum Puspita Dyah 090087

·         Konsep dasar ekonomi pendidikan
Ilmu ekonomi pendidikan tumbuh dan berkembang oleh prespektif investasi sumber daya manusia. Konsep investasi SDM ini menganggap penting kaitanya antara pendidikan, produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi. Teori human capital menganggap bahwa tenaga kerja merupakan pemegang kapital yang tercermin dalam keterampilan, pengetahuan, dan produktivitas kerjanya.
Pusat perhatian mendasar dari konsep ekonomi adalah bagaimana mengalokasikan sumber-sumber yang terbatas untuk mencapai tujuan yang beraneka ragam mungkin tak terhingga jumlahnya. Pertimbangan ekonomis didasarkan pada kemampuan anggaran, sedangkan pertimbangan politis didasarkan pada tujuan masyarakat secara menyeluruh. Namun demikian skala prioritas adalah pertumbuhan ekonomi yang biasanya merupakan prioritas tertinggi. Investasi SDM diperkuat oleh beberapa hasil penelitian yang telah membuktikan pentingnya pendidikan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Sumbangan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dengan bentuk investasi fisik lainya. Dalam konsep ekonomi pula terdapat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) yakni pengukuran perbandingan dari harapan hidup,melekhuruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang ataunegara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Ø  Landasan Teori
Teori Pertumbuhan Ekonomi Modernisasi yang paling terkenal adalah teori dari ekonom W.W Rostow yang ditulis dalam bukunya The Stage of Economic Growth: A Non Communist Manifesto(1960) dan juga dalam The Process of Economic Growth(1953), kajianya memakai pendekatan sejarah dalam menjelaskan proses perkembangan ekonomi. Menurut Rostow , perkembangan ekonomi suatu masyarakat meliputi lima tahap perkembangan, yaitu tahap masyarakat tradisional, tahap prakondisi tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan(maturity), tahap konsumsi masa tinggi atau besar-besaran. Di Indonesia sendiri mengalami tahapan-tahapan seprti yang dikemukakan Rostow.
Teori yang kedua yang menurut kelompok kami relevan yakni teori Dependensi, teori dependensi yakni ketergantungan, Keadaan ketergantungan dilihat dari satu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruh negara dunia ketiga. Jelas sekali bahwa dapat diartikan ekonomi pendidikan merupakan bagian yang terpenting dari ilmu ekonomi yang merupakan hal yang tak terpisah dari ilmu ekonomi sumber daya manusia untuk pembangunan nasional.

Ø  Permasalahan
Indonesia, sebagai salah satu negara yang sedang membangun di kawasan Asia Tenggara, tidak terlepas dari kesulitan sebagaimana dikemukakan oleh kedua orang ahli tersbut tadi, kesulitan yang dihadapi oleh negara kita dalam proses pembaharuan pendidikan nasional, antara lain adalah bertambahnya dengan cepat jumlah anak-anak yang perlu mendapat pendidikan sekolah, sedangkan daya tampung sangat terbatas. Ketimpangan antara permintaan dan penyedia fasilitas belajar, keterbatasan sumber-sumber seperti: personal, material dan biaya. Sementara itu pendidikan nasional kita dihadapkan kepada masalah lain diantaranya adalah peningkatan kualitas, pemerataan kesempatan, keterbatasan anggaran yang tersedia dan belum terpenuhi sumber daya daya dari masyarakat secara profesional sesuai dengan prinsip pendidikan sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orangtua.
Masalah perluasan kesempatan (akses) merupakan dampak nyata dalam memberikan tempat pada demokratis pendidikan sebagai pendidikan kita selalu dihadapkan pada masalah kualitas dan kuantitas. Masalah kualitas terdesak oleh pemikiran kuantitas, terlebih pada masa krisis ekonomi dimana daya dukung ekonomi keluarga semakin melemah yang mengakibatkan banyak usia sekolah tidak dapat melanjutkan sekolah, meningkatnya putus sekolah. Melemahnya kemampuan sebagai dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan dapat kita pahami karena struktur pengeluaran sebagaian besar adalah untuk kehidupan primer.
Selanjutnya turunya nilai tukar rupiah US dolar menimbulkan kenaikan harga barang dan jasa termasuk bahan-bahan yang diperlukan untuk kegiatan proses belajar-mengajar. Berdasarkan beberapa studi yang dilakukan Bank Dunia, menunjukan bahwa investasi pendidikan sebagai kegiatan inti pengembangan SDM terbukti telah memiliki sumbangan yang sangat signifikan terhadap tingkat keuntungan ekonomi (MC Machon dan Boediono 1992). Selanjutnya kontribusi pendidikan terhadap produktivitas kerja dapat dilihat dari penghasilan pekerja yang selain ditentukan oleh tingkat pendidikan juga ditentukan oleh strategi pasar kerja yang ada disuatu wilayah tertentu.
·         Kebijakan Pembiayaan Pendidikan
krisis ekonomi dan manometer mengharuskan pengkajian ulang atau reorientasi kebijakan dan pembiayaan pendidikan, karena program dan pembiayaan lama yang dirancang sebelum krisis. Dalam rangka peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang (dasar, menengah, dan tinggi) perhatian dipusatkan pada faktor-faktor sebagai berikut:
1.      Kecukupan sumber-sumber pendidikan untuk menunjang proses pendidikan dalam arti kecukupan dalam jumlah dan mutu guru, buku teks murid dan sarana belajar yang memadai.
2.      Kualitas menajemen sekolah harus ditingkatkan.
3.      Alokasi anggaran lebih diprioritaskan untuk berbagai penyuluhan yang berlangsung menyentuh kebutuhan PMB.
4.      Perlu dikembangkan budaya enterpreneurship yang mengubah orientasi lulusan dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.
5.      Peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan.
6.      Untuk menjembatani kesenjangan dalam kesempatan, memperoleh pendidikan yang bermutu dengan dengan menggunakan rekonstruksi penerimaan dan pengeluaran pendidikan menjadi salah satu prioritas utama yang harus d\segera dilakukan.
7.      Pendidikan dasar bisa merupakan tahapan yang kritis dan awal yang baik dalam upaya pembentukan watak dan kualitas SDM Indonesia.

1 komentar:

  1. (Elin Budiarti 0900988 UPI)
    Memang benar pendidikan di Indonesia saat ini sangat mahal. Mahalnya biaya pendidikan dari tingkat sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) hingga disini membuat masyarakat miskin tidak memiliki memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta biayanya itu sama saja yaitu mahal. Berbeda dengan jaman dulu sekolah negeri lebih murah daripada sekolah swasta. Pendidikan berkualitas dan pendidikan bermutu tidak mungkin murah atau gratis. Pemerintah seharusnya berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menimbulkan semakin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini. Pada realitanya MBS di indonesia lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena kebanyakannya yang menjadi komite sekolah atau dewan pendidikan itu yang merupakan progam MBS selalu diisyaratkan adanya unsur pengusaha atau kasarnya komite sekolah itu selalu datang dari pengusaha. Tetapi ada juga dalam pemilihan komitenya itu berdasarkan hasil musyawarah Orangtua siswa, kemudian secara aklamasi SK dibuat oleh Kepala Sekolah.
    Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar yaitu solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara. Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
    Pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurutnya, privatisasi pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat bank dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga Perguruan Tinggi. Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di indonesia. Di jerman, prancis, belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak Perguruan Tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.
    Secara keseluruhan penulis sudah bagus dalam memaparkan permasalahan di Indonesia khusunya maslaah pendidikan, dan menurut saya Teori dari Alex Inkeles yang dapat menunjang permasalahan tersebut. Teori Alex Inkeles dan David Smith menekankan tentang lingkungan material dalam hal ini lingkungan pekerjaan. Teori pada dasarnya berbicara tentang pentingnya factor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan dalam hal ini manusia modern. Alex Inkeles mengidentifikasi ciri-ciri manusia modern, yang salah satunya berkenaan keterbukaan terhadap informasi dan pengalaman-pengalaman baru, serta menghargai manfaat pendidikan. Dengan demikian, orang modern adalah orang yang mampu memberdayakan dirinya melalui pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya. Lewat pendidikanlah setiap individu anggota masyarakat dan warga negara akan dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia terdidik (homo educandum).

    BalasHapus