Rabu, 20 Juni 2012

Perkembangan Agama Hindu di India



Oleh :
Sri Faida Wulandari (0907198)
Suci Apratiwi (0906334)
Abdul Aziz (0906075)
Hindu, dalam bahasa  Sanskerta, yaitu  Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi)  dan Vaidika-Dharma (Pengetahuan Kebenaran). Secara etimologi bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu  Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.
Tidak seperti agama lain di dunia, agama Hindu tidak mengklaim seorang pendiri agama saja, tidak menyembah satu dewa saja, tidak menganut satu dogma saja, tidak meyakini satu filsafat saja, tidak mengikuti satu macam ritual keagamaan saja. Memang, ia tidak muncul untuk menampilkan satu macam ciri tradisional yang sempit. Agama Hindu mungkin dapat digambarkan sebagai sebuah jalan kehidupan.
Perkembangan Agama Hindu di India
Sebagai dampak dari masuknya bangsa Arya pada sekitar abad 2500 SM yang mendesak bangsa Dravida untuk hijrah Ke Dekkan, maka Bangsa ini mengembangkan agama baru sebagai perkembangan agama sebelumnya. Agama sebelumnya dari bangsa Arya terdiri atas penyembahan terhadap dewa-dewa seperti penyambahan terhadap Dewa Cahaya atau Dewa Angkasa yang dianggap mereka berdiam di kayangan. Sedangkan Dewa Zeus atau Dewa Yupitar dari bangsa Yunani yang disebut sebagai Dyauspitar dianggap sebagai bapak langit. Kedudukan Dewa Dyauspitar kemudian tergeser oleh Dewa Langit lain yang bernama Varuna, yaitu Dewa pembuka cahaya dan penguasa alam semesta (Abu Su’ud,50:1988).
Bangsa Dravida sendiri pada awalnya sudah memilki kepercayaan yaitu memuja roh nenek moyang. Dan pada akhirnya Dari adanya dewa-dewa yang dipercaya oleh bangsa Arya  tersebut maka disatukanlah dengan dewa-dewa dari bangsa Dravida hingga lahirlah agama Hindu. Agama Hindu yang merupakan sinkretisme antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu.
Dalam perkembangannya agama ini terdiri dari beberapa fase yaitu Jaman Weda, jaman Brahmana, dan jaman Upanisad.
Veda  Sekitar 1.500 – 1.000 Sm
Fase veda ini telah dimulai sejak terdesaknya bangsa Dravida yang lari ke Asia Selatan tepatnya di dataran tinggi Dekkan oleh bangsa Arya yang mulai memasuki India pada sekitar 2500-1500 SM. Sejak saat itu pula dikenal sistem kasta. Sistem ini juga menjadi inti dari ajaran Hindu itu sendiri. Sistem kasta itu terdiri dari Ksatria, Brahmana, Waisya serta Sudra. Ada satu lagi kasta yang dianggap paling buruk adalah kasta Paria. Kasta ini ada untuk orang-orang yang dikeluarkan dari kasta karena membuat kesalahan fatal dalam kastanya. Mereka hanya bisa kembali memasuki kasta setelah melakukan upacara Vradyastoma.
Sistem kasta yang menjelaskan Sistem kemasyarakatan yang tercipta dalam masyarakat Hindu itu , yaitu sebagai berikut:
1.       Brahmana, Kelompok brahmana ialah pemikir, ahli filsafat dan para rohaniawan agama Hindu.      (Su’ud,17:1988). Didalam masyarakat Hindu kaum brahamana ini bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan. Mereka adalah orang yang paling mengerti mengenai seluk beluk agama Hindu, karena kegiatan sehari-harinya hampir selalu dikaitkan dengan kegiatan keagamaan selain itu ereka juga mempunyai peranan yang sangat besar bagi berjalannya pemerintahan, karena para brahman ini membimbing para warga dan juga memberikan nasehat terhadap raja dalam menjalankan pemerintahannya. Sehingga dalam uritan kasta ini para btahman menduduki posisi yang paling atas.
2.      Ksatria, Kaum elite dalam masyarakat beragama hindu terdiri dari kaum bangsawan yang mengelola kekuasaan duniawi dalam arti mereka adalah orang-orang yang berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara. Yang termasuk dalam golongan ini adalah raja beserta keluarganya, para pejabat pemerintah, dan para tentara.
3.      Waisya, kaum  yang memiliki profesi sebagai para pedagang besar, para pemilik modal maupun para petani kaya yang mempunayi lahi pertanian yang cukup luas. Walaupun berada dalam lapisan ketuga namun dalam golongan masyarakat biasa yang tergolong dalam golongan sudra ini mereka memiliki peran yang cukup penting. Karena mereka merupakan kaum yang memberikan nafkah bagi sudra karena mereka ini memperkerjakan sudra sebagai pekerja, buruh maupun budak. Selain itu para waisya ini merupakan kekuatan sosial yang menguasai sektor ekonomi dalam hal produksi dan distribusi.
4.      Sudra, biasanya masyarakat yang bermata pencaharian sebagi petani peternak, para pekerja, buruh, maupun budak, mereka ini adalah para pekerja kasar. Mereka mempunyai banyak kewajiban terutama wajib kerja tetapi keberadaannya kurang diperhatikan dan mereka yang berada dalam golongan ini menmduduki kedudukan yang kurang terhormat dalam masyarakatnya.
Selain, empat golongan tadi terdapat pula golongan yang berasa di luar kasta tersebut yang disebut dengan golongan Paria yang terdiri dari pengemis dan gelandangan.
Fase dalam Perkembangan Agama Hindu
Brahmana  Sekitar  800 – 300 Sm
Fase Brahmana yaitu disusunnya tata cara keagamaan dalam kitab suci agama Hindu yaitu Weda. Kitab ini selanjutnya dibagi menjadi 4 bagian yaitu Reg Weda, Yajur Weda, Samma Wedda serta Atharwa Weda. Reg Weda merupakan bentuk yang paling tua, yang terdiri dari 1028 lagu pujaan,dan sekarang terbagi dalam sepuluh buku (Su’ud, 1988).
1) Reg VedaReg Veda merupakan bentuk yang paling tua, yang terdiri dari 1.028 lagu pujian dan sekarang terbagi menjadi sepuluh buku. Berisi pemujaan terhadap bermacam-macam dewa dan dimaksudkan untuk dibacakan oleh para hotri yang merupakan pendeta utama pada upacara pengorbanan. (Su’ud, 1988).
2) Sama Veda
Memiliki kitab Tandya Brahmana yang dikenal dengan nama Panca Wimsa, memuat legenda kuna yang dikaitkan dengan upacara korban.
Sama weda terdiri dari ayat-ayat yang terdapat dalam Reg Weda yang diatur dalam suatu bentuk himne untuk dipergunakan oleh para udagatri atau para penyanyi lagu-lagu pujaan.( Su’ud,1988).
3) Yajur Veda
Memiliki beberapa buah kitab antara lain Taitirya Brahmana untuk Yajur Vedahitam/Kresna dan Yajur Veda Putih/Sukla.
Dalam yajur veda ini berbentuk prosa yang merupakan doa-doa yang harus diucapkan pendeta yang melakukan pujaan.
4) Atharva Veda
Memiliki Gopatha Brahmana. Dimana didalam arharava veda ini terdapat mantera-mantera dan rumus-rumus magis.
Perkembangan agama Hindu pada zaman Brahmana ditandai dengan memusatkan keaktifan pada rohani dalam upacara korban. Sehingga kedudukan kaum Brahmana mendapatkan perlindungan yang baik, karena dapat berpengaruh amat besar. Hal ini terlihat pada masa pemerintahan dinasi Chandragupta Maurya (322-298 sm) di kerajaan Magadha berkat bantuan Brahmana Canakya (Kautilya).
Fase Upanishad
Upanishad berasal dari kata Upa- nir- shad yang berarti duduk bersimpuh di dekat sang guru. (Su’ud,59:1988). Ajaran dalam upanishad lebih menekankan pada upaya seseorang manusia dalam membebaskan diri kesengsaraan yang terjadi dalam hidupnya dengan cara pemahaman atas hakekat hidup. Para pengikut ajaran ini tidak begitu mengutamakan mantra-mantra maupun pengorbanan seperti yang dilakukan pada fase brahmana maupun weda. Karena ada kepercayaan bahwa kebenaran maupun kejelekan itu semuanya larut dalam serapan btahman atau jiwa perorangan. Karena itu upacara kurban dan ritual mistik mulai berkurang namun ajaran moralaritas atau etika mulai meningkat. Dan kebanyakan orang percaya ini sebagai kendaraan untuk mencapai sorga. Para cendekiawan mulai penasaran melakukan penelitian kembali kitab suci Veda dan mengasilkan kitab-kitab Upanishad dan memproklamirkan bahwa sebuah kebebasan dari terang akal-budi bahwa ia mengetahui Tuhan, akan mencapai Tuhan dan ia sendiri adalah Tuhan.  
Dalam ajaran ini hambatan hidup dalam manusia itu adalah berupa keterikatan dengan raga manusia yang dianggap sebagai suatu siksaan atau yang dikenal dengan istilah samsara, diman hambatan itu terjadi karena adanya hukum perbuatan yang disebut dengan hukum karma. Dan cara yang digunakan untuk mempercepat pembebasan dari hukum karma ini adalah dengan cara yoga yang merupakan rentetan latihan fisik dalam sikap tertentu yang berpadu dengan pengendalian pikiran.
Dalam ajaran upanishad ini pada hakikatnya  Brahman dan Atman tidak berbeda, Brahman adalah asas kosmis, sedangkan Atman adalah asas hidup manusia. Oleh karena akikat Brahman sama dengan Atman maka sifat dari Atman adalah kekal dan abadi dia tidak pernah terlahir atau mati. Akan tetapi karena Atman bersatu dengan tubuh maka seolah-olah mengalami ia mengalami process kelahiran dan kematian berulang-ulang  artinya, setelah orang meninggal maka Atma-nya akan berpindah kebadan yang lain, dan seterusnya.
Didalam kitab upanisad dijelaskan bahwa setelah orang meninggal maka jiwanya akan pergi ke dunia nenek moyang melalui asap pembakaran. Perjalanan itu terjadi ketika matahari bergerak dari arah selatan ke utara. Didunia nenek moyang itulah perbuatan baik dan buruk dinikmati, setelah itu mereka akan menjelma kembali. Penjelmaan ini akan terjadi berulang-ulang sesui dengan hukum karma, sampai akhirnya Atma bersatu dengan Brahman atau Paramaatman. Keadaan bersatu ini yang disebut dengan Moksa. Jadi pada zaman upanisad ini ditafsirkan secara Jnana Kanda bahwa moksa itu tidak hanya dapat dicapai dengan upakara yadnya, etika, tapa brata, dan meditasi tetapi juga dengan pengetahuan mengenai Brahman). Oleh karena itu pada zaman ini tidak lagi hanya berkiblat keluar diri, kealam semesta saja namun mencari Brahman dalam diri sendiri melalui kosentrasi. 
Maka dari itu munculah konsep reinkarnasi atau proses kelahiran kembali dan dimana kelahiran sesorang setelah kematian itu ditentukan oleh perbuatannya selama hidup, dipercayai bahwa jika orang tersenut hidup dalam keadaan yang baik maka dia akan terlahir kembali menjadi mausia yang berada dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan sebelimnya dan sebaliknya jika dia hidup sebagai orang jahat maka ia akan terlahir kembali sebagai manusia yang hina dan rendah.
Sehingga dalam ajaran ini dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya dan mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu.
Fase Purana
Zaman purana menandai terjadinya evolusi Hindu di India, yaitu munculnya berbagai macam mazhab atau sekte. Meskipun demikian agama Purana mewarisi konsep-konsep keagamaan dari zaman Brahmana. Keduanya sama-sama menekankan praktik agama yang penuh dengan upacara. Agama Brahmana dan agama Purana mementingkan upacara yajna sebagai jalan untuk mencapai moksa. Hal ini diuraikan secara teliti dan mendalam dalam kitab Mimamsasutra. Ajaran yang mengajarkan pentingnya kedudukan yajna (Karma kandha) dalam agama Hindu ini dikembangkan dan diajarkan oleh para rshi pada zaman ini. Dengan pelopor-pelopornya antara lain, Rshi Prabhakaran, Rshi Kumarila Batta, dan masih banyak lagi. Ajaran ini rupanya mendapat sambutan yang luas di kalangan umat Hindu. Agama Hindu yang berdasarkan yajna, sebagaimana muncul sejak zaman Weda, Brahmana, dan Purana ini umumnya disebut Hindu ortodoks atau agama Brahmana-Smarta. Ajaran inilah yang menjadi agama rakyat India hingga akhir zaman Purana (sekitar 700 Masehi).
Akhir zaman Purana ditandai dengan terjadinya kekacauan di antara umat Hindu, akibat pertentangan yang hebat antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya. Setiap mazhab membenarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan ajaran dari mazhab mereka sendiri dan menyalahkan kebenaran dari mazhab yang lain. Hal-hal yang dipertentangkan terutama mengenai ajaran Ahimsa. Di samping itu, juga mengenai upacara yajna, kurban binatang, vegetarian dan non-vegetarian, dan hal-hal prinsip lainnya. Pertentangan itu semakin memanas dan memuncak pada akhir zaman Purana. Selain itu, pertentangan antara pemeluk agama Hindu dan agama Buddha juga terus berlangsung.
 Sekte-Sekte Agama Hindu Di India
Pemujaan pada Dewa Wisnu: Satu-satunya aliran yang mendapatkan kemajuan sehingga bisa berkembang dengan pesat terutama pada masa Gupta yaitu vaisnava atau aliran yang memuja dewa wisnu sebagai dewa utama. Dan dalam menjalankan fungsinya sebagai dewa pemelihara jagat raya, wisnu mempunyai kemampuan untuk menjelma kedalam berbagai makhluk. Akibatnya Wisnu disembah dalam wujud penjelmaannya atau avatarnya.
Pemujaan pada  Dewa Siwa: Pemujaan pada dewa siwa menggambarkan Siwa sebagai maha pertapa dan sebagai pelindung para petapa. Menurut para penganutnya siwa juga melakukan penjelmaan tertentu yang nampaknya meniru aliran wisnu. Kecenderungan pendekatan diantara kedua aliran ini terlihat nyata dalam perpaduan bentuk penjelmaan Harihara. Tokoh ini merupakan gabungan dari gelar hari bagi wisnu dan hara bagi  Siwa. Pemujaan ini banyak dilakukan di daerah Deccan terutama pada masa Vijayanegara.
Pemujaan pada Sakti: Pemujaan terhadap para dewa perempuan yang nampaknya berkembang disepanjang waktu di india, yang bermula pada masa kebudayaan Harrapa dilembah sungai Indus. Pemujaan itu merupakan kelangsungan dari rasa ketergantungan mereka terhadap dewi kesuburan karena ketergantungan mereka pada tanah pertanian.
Sekte Brahma : sebagai pencipta yang menurunkan Sekte Agni, Sekte Rudra, Sekte Yama, dan Sekte Indra. Sekte adalah jalan untuk mencapai tujuan hidup menurut Agama Hindu, yaitu moksha (kembali kepada Tuhan), dan pemeluk Hindu dipersilahkan memilih sendiri aliran yang mana menurutnya yang paling baik/bagus.
Kemunduran Agama Hindu Abad Ke 6 Sm Di India
Pada abad 6 SM terjadi proses penbaharuan dalam bidang keagamaan yang terus berkembang dan berkelanjutan. Hal ini terjadi karena mereka ingin bebas dari dominasi para brahman. Dua ajaran yang muncul pada masa itu adalah jainisme dan budhisme. Kedua ajaran ini pada dasarnya tidak menolak keberadaan dewa-dewa karena itu banyak orang yang mudah masuk kedalam ajaran ini karena tanpa harus meninggalkan kepercayaan pada dewa-dewa, kan tetapi dalam ajaran budhisme dapat dikatakan anti kasta yang ada dalam masyarakat hindu. Tentu saja hal ini disambut baik oleh para kaum yang merasa di diskrimimnasi oleh kasta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar