Minggu, 10 Juni 2012

Jepang Pada Masa Pemerintahan Shogun Tokugawa (1603-1867)

Oleh:
Rizki Achirudin
Putri Permata Sakti
Taufik Hidayat


Abstraksi
Era Tokugawa merupakan era penyatuan Jepang yang diawali oleh naiknya Tokugawa Ieyasu sebagai Shogun. Era ini membawa Jepang menutup diri (isolasi) dari dunia luar dengan sistem feodal, yang merupakan transisi ke Restorasi Meiji kelak sebagai antiklimaks isolasinya.

Pendahuluan
Jepang merupakan salah satu negara di kawasan Asia Timur yang patut diperhitungkan. Dengan kehebatannya dalam memadukan tradisi dan modernisasi, menjadikan Jepang sebagai bangsa yang maju. Dalam periodisasi sejarahnya, Jepang terbagi ke dalam 4 babak, yaitu zaman prasejarah, zaman klasik, zaman pertengahan, dan zaman modern. Zaman pertengahan Jepang ditandai dengan bangkitnya kelompok penguasa yang terdiri dari para ksatria (Samurai). Pada zaman ini juga merupakan zaman feodalisme yang ditandai dengan perebutan kekuasaan antar kelompok penguasa yang terdiri dari samurai. Pemerintahan di Jepang pada zaman pertengahan dikenal dengan pemerintahan bakufu (Shogun). Shogun berasal dari kata Sei I TaiShogun yang berarti panglima pasukan ekspedisi melawan orang biadab. Pemerintahan Shogun merupakan pemerintahan militer. Jadi di Jepang saat itu terdapat dua sistem pemerintahan, yaitu pemerintahan sakral yang dipimpin oleh Tenno sebagai bangsawan istana (Kuge) dan penguasa politik secara nyata yang dipimpin oleh para Shogun (bangsawan Buke). Masa pemerintahan bakufu (Shogun) di Jepang terbagi ke dalam tiga, yaitu yang berpusat di Kamakura (1185-1333), yang berpusat di Muromachi/Kyoto (1333/1573), dan yang berpusat di Edo/Tokyo (1603-1867).
Shogun sebenarnya mulai dikenal sejak  zaman Nara (710-794) dan zaman Heian (794-1185), akan tetapi jabatan Shogun pada Zaman Nara dan Heian tidaklah memiliki kekuasaan penuh sebagaimana Zaman Kamakura hingga Zaman Edo (era Tokugawa), Shogun Zaman Nara/Heian hanya bertindak sebagai jenderal perang. Selain itu jabatan Shogun pada Zaman Nara/Heian masih dipegang secara bebas tanpa melihat keturunan. Barulah sejak Zaman Kamakura (1192-1333) jabatan Shogun hanya diperuntukkan keturunan klan Minamoto dan memiliki kekuasaan penuh pemerintahan dengan kaisar bertindak hanya sebagai simbol.

Kemunculan Rezim Shogun Tokugawa
Kemunculan Shogun Tokugawa yaitu ketika Tokugawa Ieyasu berhasil memenangkan pertempuran Sekigahara. Ketika Toyotomi Hideyoshi wafat, ada perebutan kekuasaan antara pihak yang dipimpin oleh Tokugawa Ieyasu melawan pihak Ishida Mitsunari. Pertempuran dimenangkan oleh Tokugawa Ieyasu yang memuluskan jalan menuju terbentuknya Shogun Tokugawa. Tokugawa Ieyasu berhasil merebut kekuasaan pemerintah pusat . Keberhasilan lebih yang diperoleh Tokugawa Ieyasu adalah keberhasilan diangkat sebagai Shogun oleh kaisar pada tahun 1603. Tokugawa Ieyasu merupakan Shogun pertama sekaligus pendiri Shogun Tokugawa.
Daftar Klan Tokugawa antara lain:
1. Tokugawa Ieyasu (1543-1616), berkuasa : 1603- 1605
2. Tokugawa Hidetada ( 1579-1632), berkuasa : 1605-1623
3. Tokugawa Iemitsu ( 1604-1651), berkuasa :1632-1651
4. Tokugawa Ietsuna (1641-1680),bekuasa : 1651-1680
5. Tokugawa Tsunayoshi (1646-1709), berkuasa : 1680-1709
6. Tokugawa Ienobu (1662-1712), berkuasa : 1709-1712
7. Tokugawa Ietsugu (1709-1716), berkuasa : 1713-1716
8. Tokugawa Yoshimune (1684-1751), berkuasa : 1716-1745
9. Tokugawa Ieshige (1711-1761), berkuasa : 1745-1760
10. Tokugawa Ieharu (1737-1786), berkuasa : 1787-1837
11. Tokugawa Ienari ( 1773-1841 ),berkuasa :1787-1837
12. Tokugawa Ieyoshi (1793-1853), berkuasa : 1837-1853
13. Tokugawa Iesada (1824-1858), berkuasa : 1853-1858
14. Tokugawa Iemochi (1846-1866), berkuasa : 1858-1866
15. Tokugawa Yoshinobu (Keiki) (1837-1913), berkuasa : 1867-1868

Kehidupan Pada Masa Shogun Tokugawa
a.      Struktur Sosial Masyarakat
Rakyat Jepang dibagi-bagi menurut sistem kelas, berdasarkan pembagian kelas yang diciptakan Toyotomi Hideyoshi. Kelas samurai berada di hirarki paling atas, diikuti petani, pengrajin dan pedagang. Pemberontakan sering terjadi akibat pembagian kelas yang kaku dan tidak memungkinkan orang untuk berpindah kelas. Pajak yang dikenakan pada petani selalu berjumlah tetap dengan tidak memperhitungkan inflasi. Samurai yang menguasai tanah harus menanggung akibatnya, karena jumlah pajak yang berhasil dikumpulkan semakin hari nilainya semakin berkurang. Perselisihan soal pajak sering menyulut pertikaian antara petani kaya dan kalangan samurai yang terhormat tapi kurang makmur. Pertikaian sering memicu kerusuhan lokal hingga pemberontakan berskala besar yang umumnya dapat segera dipadamkan.

b.      Perkembangan Sosial Budaya
Sejak pemeritahan Letshuna, bakufu mulai melonggarkan cara pemerintahan militer yang ketat untuk lebih memberi tekanan pada usaha pendidikan dan kebudayaan karena landasan bakufu telah aman dan perlu pengendalian terhadap para daimyo. Selama zaman administrasi birokrasi, industri domestik memperlihatkan perkembangannya dan produksi bertambah dengan cepat. Perhubungan juga mengalami perbaikan, peredaran bahan-bahan konsumsi menjadi lancar dan perdagangan juga bertambah maju. Pada puncak kemakmurannya, Edo merupakan kota yang terbesar di antara kota istana dan di perkirakan mempunyai penduduk satu juta orang. Dengan hal ini kemakmuran ekonomi, ilmu pengetahuan, kesastraan, dan kesenian maju dengan pesat.Kemajuan juga tercapai dalam penelitian sejarah Jepang, yang membawa pendekatanbaru terhadap studi Mithe-Mithe. Dalam bidang kesusastraan timbul banyak sastra yangbersumber pada kehidupan kelas pedagang. Dalam bidang kesenian aliran Kano menjadi sumber pelukis-pelukis resmi bagi lembaga Shogun.

c.       Sistem Politik
Sistem politik feodal Jepang di zaman Edo disebut Bakuhan Taisei, baku dalam” bakuhan” berarti “tenda” yang merupakan singkatan dari bakufu (pemerintahan militer keShogunan). Dalam sistem Bakuhan Taisei, daimyo menguasai daerah-daerah yang disebut Han dan membagi-bagikan tanah kepada pengikutnya. Sebagai imbalannya, pengikut daimyo berjanji untuk setia dan mendukung daimyo secara militer. Kekuasaan pemerintah pusat berada di tangan Shogun di Edo dan daimyo ditunjuk sebagai kepala pemerintahan daerah. Daimyo memimpin propinsi sebagai daerah yang berdaulat dan berhak menentukan sendiri sistem pemerintahan, sistem perpajakan, dan kebijakkan dalam negeriKeturunan keluarga Tokugawa disebar sebagai daimyo di seluruh pelosok Jepang untuk mengawasi daimyo lain agar tetap setia dan tidak bersekongkol melawan Shogun.
Feodalisme Edo telah muncul dari sistem hirarki yang berstruktur ganda menjadi yang berstruktur tunggal, yang berakar dalam suatu hubungan pengawasan oleh atasan dan pemberian kompensasi kepada orang bawahan dalam bentuk penghasilan dari produksi desa (Ishii, 1988). Tokugawa Ieyasu mengeluarkan kebijakan shihai yang artinya pengawasan dan fujo yang artinya bantuan. Fujo merupakan suatu istilah yang diberikan untuk melukiskan tanah yang dihadiahkan oleh para atasan kepada para bawahan. Selain adanya kebijakan fujo, hubungan antara pemimpin dan pembantu dilakukan dengan sistem pengawasan (shihai) yang bersifat hierarkis dan massal dalam kalangan kaum militer. Puncak kekuasaan dipegang oleh shogun, yaitu dari keluarga Tokugawa yang sedang memerintah. Di bawahnya terdapat pembantu langsung shogun yang dinamakan kashin. Di antara kashin tersebut antara lain daimyo, hatamoto, gokenin, dan koke. Hubungan di dalam sistem keshogunan terjalin secara hierarkis dan mengandung unsur feodalisme yang kuat. Feodalisme termanifestasi dalam bentuk penghormatan yang besar terhadap pemimpin.

d.      Sistem Politik Luar Negeri
Pada masa Tokugawa, Jepang menjalankan politik isolasi atau politik sakoku. Politik sakoku adalah kebijakan penutupan negara dimana Orang Jepang dilarang pergi ke luar negeri dan Orang dari negara lain yang pada umumnya adalah pedagang lintas negara dilokalisasi di sebuah pulau buatan manusia bernama Dejima yang terletak di Teluk Nagasaki, dan itu pun dengan pembatasan yang sangat ketat. Hanya Belanda, China, Korea dan Ryukyu (sekarang Okinawa) yang diizinkan melakukan hubungan dagang dengan Jepang. Masalah agama yang banyak dianggap sebagai latar belakang penutupan negara sebenarnya bukanlah faktor utama penyebab terjadinya Sakoku. Kekhawatiran akan imperialisme Eropa juga merupakan faktor yang menentukan. Ketika pemerintah mengambil kebijakan untuk menutup negara maka pemerintah justru mempunyai kesempatan yang besar untuk memperbaiki pola pikir masyarakat. Dapat dikatakan bahwa masa Sakoku adalah masa Jepang menjadi kepompong. Dalam masa Sakoku masyarakat Jepang banyak belajar memahamai bangsanya sendiri dan bangsa lain. Negara yang tertutup menghasilkan kondisi yang kondusif untuk membangun nasionalisme masyarakat, bahkan pada saat itu materi tentang nasionalisme dimasukkan dalam sistem pendidikan (Kokugaku). Untuk mengimbangi keterasingan dari dunia luar, agar tidak tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan, masyarakat Jepang tetap mempelajari ilmu – ilmu sains, terutama yang berasal dari Belanda (rangaku). Materi ini juga dimasukkan dalam sistem pendidikan. Namun, kebijakan pemerintah yang hanya mengizinkan Belanda untuk tinggal di Dejima, tanpa masuk wilayah Jepang membuat masyarakat lebih objektif dalam menerima ilmu – ilmu dari Belanda tersebut. Pembelajaran terhadap sains Eropa dengan metode struktural seperti ini adalah upaya pemerintah agar masyarakat tidak terkontaminasi budaya Barat dan dapat tetap menjunjung tinggi tradisi Jepang.

Keruntuhan Shogun Tokugawa
a.    Timbulnya Pemikiran Anti Bakufu dan Anti Feodal
Munculnya pemikiran anti bakufu dan anti feodal muncul setelah beberapa golongan terutama dari golongan pendukung Shintoisme Suika yang mendesak pembubaran bakufu dan pengembalian kekuasaan pemerintahan kepada kaisar. Pendorong munculnya beberapa protes terhadap sistem feodalisme Bakufu tidak terlepas dari perkembangna ilmu pengetahuan di Jepang. Intelektualisme memunculkan sikap perbandingan antata sistem kekaisaran mutlak dengan sistem feodalisme militer Bakufu. Hal tersebut akhirnya membangkitkan semangat loyalitas kepada raja dan menolak sistem keshogunan, terutama sistem feodalismenya. Salah satu gerakan awal intelektualisme di Jepang adalah munculnya gerakan Mito yang memberi pengkajian terhadap kepribadian asli Jepang. Tokoh dari gerakan ini antara lain Fujita Yo-Koku dan anaknya yang bernama Fujita Toko, dan Aizawa Seisjisai.

b.    Merosotnya Feodalisme Han dan Desa
Kebijakan fujo berupa pemberian tanah untuk pertanian menemui kemandekan ketika terjadi stagnasi produksi pertanian di tengah tingkat konsumsi yang semakin meningkat. Ekonomi uang yang semakin meningkat mengakibatkan kemerosotan swasembada beras di pedesaan. Hal itu diperparah dengan tuntutan kenaikan pemasukan oleh para daimyo yang terlilit hutang dengan menaikan pajak.
Hubungan pemimpin dan pembantu menemui kerenggangan ketika semangat militeristik para samurai  mulai pudar. Sekian lama berada dalam keadaan damai dan mengurusi kepentingan sipil membuat semangat loyalitas militer mulai melenceng.  Lambat laun mereka menyukai kedudukan sipil. Kecemburuan sosial terjadi antara pemimpin dan pembantu ketika beberapa golongan rendah mulai merasa ada ketidakadilan dengan sistem fief daimyo yang turun temurun.

c.    Keadaan di dalam Han
Han yang lebih terfokus ke desa merasakan krisis yang amat buruk sebagai dampak dari tumbuhnya ekonomi uang serta ekonomi barang dagangan. Hal tersebut tidak dibarengi daya beli yang cukup sebagai akibat stagnansi produksi serta tuntutan para daimyo yang semakin meningkat.

d.    Pemiskinan Golongan Militer dan Keberhasilan Para Pedagang
Di tengah krisis, para daimyo sangat bergantung kepada kucuran dana pinjaman para saudagar, mereka akhirnya membuat suatu konsesi dengan memberikan hak istimewa kepada para saudagar.  Hak istimewa tersebut antara lain pemberian status kepada para saudagar sebaga samurai.   Pemberian hak istimewa kepada para saudagar membuat para saudagar lebih leluasa dalam berbisnis. Namun dibalik itu, para saudagar tetap berusaha agar sistem feodalisme tidak runtuh karena kesuksesan mereka sangat bergantung kepada sistem tersebut.

e.    Penggolongan dalam Tubuh Kelas Petani
Perekonomian desa yang identik dengan perekonomian pertanian menemui kekacauan ketika krisis ekonomi global di Jepang melanda pedesaan. Krisis ekonomi tersebut mendorong beberapa petani miskin untuk menjual tanahnya kepada petani besar sehingga kesenjangan di desa semakin tajam dengan adanya petani kaya dengan petani miskin. dampak terhadap kekuasaan feodal adalah berkurangnya sokongan desa terhadap pusat pemerintahan feodal.

Kesimpulan
Keshogunan Tokugawa muncul setelah terjadi perpecahan antar daimyo di Jepang. Hideyoshi Toyotomi berhasil menguasai keadaan dengan dibantu oleh Tokugawa Ieyasu. Wafatnya Hideyoshi Toyotomi pada 1598 membuka peluang bagi Tokugawa Ieyasu untuk menggantikan posisi Hideyoshi Toyotomi. Tokugawa Ieyasu berhasil menjadi shogun pada 1603.
Kebijakan politik pada masa Tokugawa terkenal dengan dua kebijakan penting yakni kebijakan shihai dan fujo. Shihai adalah kebijakan pengawasan terhadap para pejabat keshogunan dari mulai yang atas hingga ke bawah. Pengawasan didasarkan pada prinsip pemimpin dan pembantu. Kebijakn kedua adalah kebijkaan fujo yaotu kebijakan pemberian bantuan kepada beberapa pejabat.
Kehancuran keshogunan Tokugawa akhirnya menemui titik temu ketika dua kebijakan yang tadinnya berjalan sehat menemui kebuntuan hingga menghasilkan masalah serius. Pengawasan yang tidak berjalan berdampak pada banyaknya para daimyo yang lebih bersikap sipil daripada militeris. Sedangkan  keselewengan dari sistem fujo adalah dengan adanya kesenjangna di pedesaan sebagai dampai ekonomi global yang melilit desa.






Daftar Pustaka
Ishii, Ryosuke. (1988). Sejarah Institusi Politik Jepang. Jakarta : PT. Gramedia.
Yukichi, Fukuzawa. (1985). Jepang di antara feodalisme dan modernisme. Jakarta : PT. Pantja Simpati
Mangandaralam, Syahbuddin. (1987). Mengenal Dari Dekat Jepang Negara Matahari Terbit. Bandung: Remadja Karya.
Rosidi, Ajip. (1981). Mengenal Jepang. Jakarta: Pusat Kebudayaan Jepang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar