Jumat, 13 Januari 2012

RESTORASI MEIJI DALAM PEMBANGUNAN DI JEPANG

PENYAJI
RESTORASI MEIJI DALAM PEMBANGUNAN DI JEPANG
Evi Lestari (0901288)
A.           Restorasi Meiji
Restorasi Meiji merupakan peristiwa yang menandai runtuhnya sistem feodal pemerintahan Tokugawa dan menempatkan kembali Tenno (Kaisar) sebagai penguasa tertinggi pemerintahan. Jepang yang sebelumnya menerapkan politik Pintu Tertutup yang disebut dengan Sakoku, mulai memberlakukan politik Pintu Terbuka yang disebut dengan Kaikoku. Dengan demikian dimulailah modernisasi Jepang secara besar-besaran.
Modernisasi dimulai segera setelah negara Jepang terpaksa membuka diri bagi pergaulan internasional, akibat ancaman dan tekanan dari luar, terutama dari Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis dan lain-lain. Perkembangan-perkembangan yang terjadi selama masa Sakoku ternyata tidak dapat mengimbangi perkembangan-perkembangan yang telah dicapai negara-negara Barat. Mereka menyadari bahwa pemerintahan yang dijalankan Shogun Tokugawa sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. 
Jepang sadar, untuk mempertahankan diri dan untuk mengimbangi negara-negara Barat hanya ada satu jalan yaitu dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi mereka. Jepang menganggap bahwa Eropa dan Amerika Serikat dapat menguasai Asia karena mereka lebih unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu Jepang berusaha mengejar ketertinggalan mereka dari negara Eropa dan Amerika Serikat dan alasan lainnya adalah untuk menghindari agresi.
Di bawah slogan Wakon Yosai (Kepribadian Jepang, Teknologi Barat) serta slogan Shokusan Kogyo (Meningkatkan produktivitas dengan menggalakkan industrialisasi) yang dikaitkan dengan slogan Fukoku Kyohei (Negara kaya, militer kuat), Jepang memacu modernisasi dengan kecepatan yang luar biasa. Secara besar-besaran mengimpor dan melaksanakan modernisasi di berbagai bidang kehidupan, seperti ekonomi, kebudayaan, politik, pendidikan, telekomunikasi dan kemiliteran.
 Pembaharuan terjadi secara teratur dalam berbagai bidang. Pemerintah juga menetapkan kebijakan-kebijakan baru untuk membuat Jepang menjadi modern. Diantaranya adalah perombakan politik serta pembebasan Jepang dari tekanan baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk melakukan modernisasi, pemerintah memusatkan perhatiannya pertama-tama kepada masalah dalam negeri demi kepentingan memperoleh posisi internasional. Untuk itu diperlukan modernisasi dalam segala bidang dengan mengandalkan sumber daya yang ada.
Dalam hal ini, pemerintah masih menggunakan nilai-nilai nasionalisme yang ada dalam masa Tokugawa, yaitu etika Bushido, untuk menunjukkan loyalitas dan kebiasaan patuh kepada pemimpin dengan kerelaannya untuk mengorbankan diri. Kebiasaan tersebut akhirnya menjelma dalam bentuk cita-cita nasional dengan kesetiaan kepada Tenno dan cinta tanah air. Semangat Bushido yang dijadikan pegangan hidup tersebut telah menjadi semangat bersama yang dijunjung tinggi untuk mendorong tercapainya cita-cita pembentukan masyarakat modern. Pemerintah Jepang melakukan usaha modernisasi secara besar-besaran tetapi proses modernisasi juga mengalami masalah-masalah dalam perjalanan perkembangannya. Antara lain disebabkan karena adanya goncangan budaya yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Jepang. Hal ini terjadi karena benturan antara kebudayaan Timur dengan kebudayaan Barat yang masuk melalui politik Pintu Terbuka. Benturan-benturan seperti ini dirasakan sangat mengganggu cara hidup mereka yang telah terbiasa dengan sistem lama.
      Selain itu pemekaran Budaya Barat (Bummei Kaika) yang dialami masyarakat Jepang telah menunjukkan suatu gejala yang buruk. Orang Jepang banyak yang meniru segala sesuatu dari Barat hanya untuk gagah-gagahan belaka. Akibatnya para pemimpin Jepang mulai meninjau kembali proses pembaratan ini dan mulai menanamkan kebanggaan terhadap kebudayaan Jepang asli, untuk membentuk dasar bagi jiwa seluruh bangsa Jepang guna menjadi bangsa yang modern.
B.            Landasan Teori
Dalam pembahasan ini ada beberapa teori yang dapat dihubungkan dengan keadaan Jepang pada saat Restorasi Meiji yaitu:
Teori Modernisasi klasik Smelser : Diferensiasi Struktural. Bagi Smelser, modernisasi akan selalu melibatkan diferensiasi struktural, ini terjadi karena, dengan proses modernisasi ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Bangunan baru ini sebagai satu kesatuan yang terdiri dari berbagai substruktur yang terkait menjalankan keseluruhan fungsi yang dilakukan oleh bangunan struktur lama, sehingga pelaksanaan fungsi akan lebih efisien.
Teori Pertumbuhan Ekonomi Modernisasi dari W.W Rostow yang menyatakan bahwa, perkembangan ekonomi suatu masyarakat meliputi lima tahap perkembangan, yaitu tahap masyarakat tradisional, tahap prakondisi tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan(maturity), tahap konsumsi masa tinggi atau besar-besaran. ditulis dalam bukunya The Stage of Economic Growth: A Non Communist Manifesto(1960) dan juga dalam The Process of Economic Growth(1953), yang kajianya memakai pendekatan sejarah dalam menjelaskan proses perkembangan ekonomi.
Dan teori yang ketiga dapat kita gunakan dalam membahas masalah ini adalah teori perubahan sosial dan budaya yang dirumuskan oleh Karl Marx yaitu bahwa perubahan sosial dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism).

C.            Penyelesaian
Teori-teori di atas mampu Membantu memberikan analisis mengenai Restorasi Meiji yang telah merubah Jepang. Pembenaran hubungan kekuatan yang bertolak belakang antara masyarakat tradisional dan modern. Jadi negara dunia ketiga perlu melihat Amerika dan Eropa Barat sebagai model. Dunia ketiga perlu melalukan pembangunan ekonomi, meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan melembagakan demokrasi politik seperti yang telah dijalani oleh Amerika dan Eropa Barat. Memberikan legitimasi perlunya bantuan asing khususnya dari Amerika Serikat.
Modernisasi di Jepang, salah satu usaha dan upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada saat Restorasi Meiji sesuai dengan teori perubahan sosial dan budaya yang dirumuskan oleh Karl Marx misalnya dengan mengirimkan pelajar ke luar negeri untuk mempelajari ilmu pengetahuan di negara-negara Barat. Nil Admirari merupakan salah satu falsafah yang mendukung modernisasi di Jepang, yang berarti tidak gampang terkejut dengan segala sesuatu yang baru dan memiliki sikap hidup yang teguh serta tidak terombang-ambing. Sikap lain yang juga mendukung modernisasi adalah sikap yang serius dan fokus terhadap tanggungjawab yang sedang dijalankan. Salah satunya adalah fokus terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajari dari Barat.  Untuk mendukung modernisasi, dituntut memiliki jiwa yang kuat agar dapat menentukan tujuan dan tidak terombang-ambing oleh arus modernisasi yang datang ke Jepang. Untuk mendukung modernisasi, diperlukan rasa nasionalisme yang tinggi, misalnya lebih mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi. Karena negara Jepang pada saat itu sangat membutuhkan tenaga-tenaga yang potensial yang ikut ambil bagian dalam menjalankan modernisasi.
Untuk menghadapi modernisasi, Jepang harus dapat dilakukan penyaringan akan segala sesuatu yang datang dari luar Jepang. Segala sesuatu yang dianggap baik dan sesuai dengan kepribadian, dapat diterima, namun apabila dianggap kurang baik dan tidak sesuai dengan kepribadian, maka sebaiknya dibuang. Sikap untuk mempertahankan kepribadian yang sudah ada juga sangat perlu dilakukan. Karena kepribadian tersebut merupakan suatu kebanggaan. Apabila ada suatu tradisi atau kebiasaan yang dianggap sudah usang atau tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, maka tidak ada salahnya dipertimbangkan kembali atau dicari jalan terbaik untuk mendapatkan keseimbangannya. Demikian juga dalam modernisasi, harus ada keselarasan antara tradisi atau kebiasaan dengan ide-ide baru yang datang bersamaan dengan modernisasi.

D.           Kesimpulan
Restorasi Meiji yang terjadi di Jepang telah mengubah Jepang menjadi negara modern dan imperialis, di mana pembangunan yang dilakukan pada akhirnya menjerumuskan mereka kedalam Perang dunia II. Jepang yang tadinya merupakan masyarakat yang kolot dan terisolir secara drastis berubah menjadi masyarakat yang modern.
Restorasi Meiji ini tidak akan mampu berjalan jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan etos kerja yang baik dari masyarakatnya. Sebuah bangsa tidak akan bisa maju jika tidak ada keinginan dari dalam bangsa itu untuk merubahnya. Satu hal yang mesti kita ingat dari Restorasi Meiji adalah bahwa antara unsure-unsur baru dan unsur-unsur tradisional semuanya berjalan secara bersama-sama. Jadi bisa kita katakan meskipun Jepang mengalami perubahan di berbagai bidang dan sektor. Nilai-nilai tradisi leluhurnya tetap terjaga dengan baik hingga sekarang. Ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa modernisasi bukan berarti merubah pola hidup dan tradisi lama leluhur yang positif dengan budaya barat.

PEMBAHAS

ANALISIS PEMBAHAS
By
Pitria apriyani (0900986)

Saya juga sependapat bahwa Restorasi Meiji tersebut bisa ditinjau dari teori W.W. Rostow yaitu Lima Tahap Pembangunan. Bagi Rostow pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yaitu dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Lima tahap pembangunan menurut Rostow:
o   Masyarakat tradisional: Masyarakat masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar kekuasaan manusia. Manusia tunduk kepada alam dan belum bisa menguasai alam. Produksi masih sangat terbatas, begitu juga sifat masyarakatnya sangat statis, dalam arti kemajuan berjalan dengan sangat lambat.
o   Prakondisi untuk lepas landas: Masyarakat tradisional, meskipun sangat lambat, terus bergerak.Pada satu titik, dia mencapai prakondisi untuk lepas landas. Biasanya keadaan ini terjadi karena adanya campur tangan dari luar, dari masyarakat yang sudah lebih maju. Segala usaha untuk meningkatkan produksi mulai bergerak dalam periode ini.
o   Lepas landas: Periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.
o   Bergerak kekedewasaan: Setelah lepas landas akan terjadi proses kemajuan yang terus bergerak ke depan, meskipun terkadang terjadi pasang surut. Industri berkembang sangat pesat. Negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global: barang yang dulunya diimpor sudah mulai diproduksi sendiri.
o   Jaman konsumsi massal yang tinggi: Karena kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada titik ini, pembangunan sudah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan secara terus menerus. Ditinjau dari teori Rostow tersebut Jepang pada mulanya sebagai negara terbelakang jauh tertinggal dari negara-negara Barat. Pemerintahan militer Tokugawa untuk mempertahankan politiknya, melakukan politik isolasi dari luar, menghadang pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Menyebabkan ilmu pengetahuan dan teknologi tertinggal jauh, bahkan diberlakukannya kelas-kelas sosial menyebabkan proses modernisasi dan mobilitas sosial mengalami kemandekan. Datangnya negara-negara Barat ke Jepang, membuat Jepang bercermin bahwa kehidupan mereka masih terlampau tradisional. Kuatnya anti asing dan loyalis terhadap kaisar menyebabkan adanya perebutan kekuasaan, sehingga pemerintaha Tokugawa berakhir tahun 1868. Maka diangkatlah Meiji sebagai Kaisar yang masih berusia 15 tahun. Perjalanan panjang untuk membangun Jepang dengan semboyan “Fukoku kyohei’ negara kaya dan militer yang kuat. Kebijakan-kebijakan yang mendasar lalu dirubah baik dalam bidang politik, sosial ,budaya, ekonomi, pendidikan. Hasilnya adalah seperti yang kita lihat hari ini. Jepang bisa memproduksi sendiri barang-barang yang tadinya banyak di buat oleh Negara Barat seperti Mobil, Motor, elektronik dan lain sebagainya. Akan kah bangsa Indonesia bisa melakukannya, perlu banyak pembenahan dari berbagai elemen guna mencapai harapan tersebut.
Saya juga menambahkan bahwa Restorasi Meiji bisa juga ditinjau dari Teori Need For Acheavement Mc. Clelland menyampaikan tentang motivasi berprestasi atau juga sering disebut sebagai kebutuhan berprestasi yaitu keinginan yang kuat untuk mencapai prestasi melalui cara kerja yang baik yaitu dengan selalu berpikir dan berusaha untuk menemukan cara-cara baru untuk memperbaiki kualitas yang dicapainya. Penelitan yang dibuat oleh Mc. Clalland menemukan bahwa suatu Negara yang memiliki kebutuhan berprestasi yang lebih tinggi maka akam mempunyai kesempatan untuk lebih mencapai kemajuan. Hal tersebut diketahui pula dari penelitian yang dilakukan di antar negara dimana negara yang memiliki derajat yang lebih tinggi kebutuhan berprestasinya, maka memiliki derajat yang lebih tinggi pada pembangunan ekonominya. Dilihat dari orang-orang yang berada di Jepang yang begitu tertinggal oleh penduduk Negara Barat maka Jepang mempunyai motivasi untuk maju dan bisa mengalahkan kemajuan yang terjadi di Negara Barat.

PEMBANGUNAN PERTANIAN CHINA DAN BAGAIMANA PENGIMPLEMENTASINYA DI INDONESIA



China dan Indonesia dikenal sebagai negara dengan  jumlah penduduknya yang sangat besar, maka pertanian pun menjadi salah satu bidang penting bagi kedua negara tersebut.China pada awalnya dikenal sebagai negara agraris yang mengandalkan pertaniannya sebagai penggerak utama sektor perekonomianya,sistem pertanian China pun masih tradisional,bahkan pada masa pemerintahan Mao Tse Tung,Mao yang melihat Cina tertinggal jauh dari negara-negara Barat memutuskan untuk menjalankan gerakan Lompatan Jauh ke Depan.Gerakan ini bertujuan mengerjar produksi baja dari negara-negara barat. Untuk mengejar ketertinggalan ini Mao membentuk komune-komune sebagai sebuah sistem produksi massal. Di kehidupan komune nilai-nilai sosialisme dan komunisme dijunjung tinggi,hak milik pribadi tidak diakui;tanah, ternak, dan alat-alat produksi disita oleh negara untuk kemudian dijadikan milik komune.Pada masa ini, negara berkuasa penuh atas hasil produksi sehingga pada masa ini posisi market sangat kecil, bahkan hampir tidak ada. Kalaupun ada,posisinya berada dalam negara itu sendiri karena negara mengatur semua distribusi hasil produksi.Di bidang pertanian pun terjadi revolusi agaria dimana tanah-tanah milik tuan tanah-tuan tanah yang begitu banyak,dibagi-bagikan ke petani miskin,namun karena terlalu fokus pada Gerakan lompatan jauh ke Depan,China seolah lupa dengan bidang pertanian,pangan amat terbatas bahkan terjadi krisis pangan dan banyak rakyat yang mati kelaparan,sampai akhirnya kebijakan yang dijalankan oleh Mao ini gagal,dan menyebabkan keterpurukuan ekonomi yang semakin parah.
            Pertanian China berubah setelah tampilnya salah satu orang berpengaruh di Cina setelah era Mao Runtuh pada tahun 1978, Deng Xiaoping yang langsung melakukan gerakan pembaharuan. Secara bertahap, ia mengganti sistem totalisasi dan sentralisasi dalam bidang pertanian yang selama ini diterapkan di negara tersebut dengan menawarkan sebuah bentuk pasar bebas sehingga memberi angin segar bagi para wiraswasta.
Kini Bank khusus pertanian pun dibentuk,mengenai keterbatasan lahan dan ketahan pangan,Cina menjawabnya dengan pengembangan teknologi pertanian. Cara bertani konvensional mulai ditinggalkan. Cina tahun ini mengeluarkan padi transgenic. Padi ini diluncurkan untuk meningkatkan produksi hingga dua kali lipat dan memberi tambahan pendapatan bagi petani.Peluncuran padi transgenik itu dilakukan setelah enam tahun melakukan riset. Selain itu, sebuah lembaga riset di Shanghai telah menemukan padi hibrida pertama di dunia yang bisa ditanam di lahan kering. Padi lahan kering ini hanya membutuhkan air 50 persen lebih rendah dibandingkan dengan padi sawah. Padi hibrida ini bisa menghasilkan 7,571 ton padi per hektar. Produktivitas ini cukup tinggi ketimbang produktivitas tanaman padi biasa yang sekitar empat ton per hektar.
 Dan juga upaya intensif dari pemerintah meningkatkan teknologi, di berbagai bidang termasuk di bidang pertanian,seperti yang disebutkan sebelumnya.Tidak heran inilah yang makin membuat  Cina sedemikian digdayanya dalam sektor pertanian, khususnya perberasan. Tak pelak, Cina dijadikan rujukan banyak negara untuk mengembangkan sektor pertanian.Kendati dikenal sebagai penghasil besar terkemuka, Cina berhasil menerapkan program diversifikasi pangan. Mereka tidak malu menyuguhkan ubi atau talas pada setiap tamu yang berkunjung, bahkan kepada tamu kenegaraan sekalipun. Hasilnya, setiap penduduk Cina hanya mengonsumsi beras 92 kilogram per tahunnya. Bandingkan dengan penduduk Indonesia, yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap Beras dengan 135 kilogram per orang tiap tahunnya.
Di samping soal program kerja efektif, penerapan teknologi, maupun diversifikasi pangan, hal lain yang turut menunjang keberhasilan Cina sebagai negara maju adalah
etos kerja yang dimiliki penduduknya, terutama di sektor pertanian ini. Salah satu contoh, di kala bekerja, mereka bekerja tanpa lelah. Sebaliknya, kalau istirahat, mereka menggunakan waktu yang ada betul-betul untuk beristirahat
Pembangunan tidak mungkin berhasil tanpa perubahan sistem nilai yang mendukung pembangunan yang kemudian diikuti oleh transformasi sosial untuk menjadi pondasi dalam persiapan penerimaan teknologi baru. Menurut pandangan Soedjatmoko, terdapat tiga pokok fikiran merubah masyarakat dalam mempersiapkan pembangunan. Pertama, proses pembangunan suatu masyarakat membutuhkan suatu transformasi sosial dalam persiapan penerimaan teknologi baru maupun sistem nilai baru. Fase ini merupakan titik awal dalam pencapaian penerimaan teknologi baru. Kedua, transformasi sosial merupakan proses yang berkesinambungan yang  membangun basis kekuatan yang mendukung proses pembangunan. Ketiga, teknologi merupakan alat untuk mempermudah pekerjaan manusia dan oleh karena itu tidak boleh memperalat manusia. Transformasi akan berjalan dan diterima dengan baik apabila memenuhi tiga aspek yaitu partisipasi masyarakat, berkeadilan sosial, dan ramah terhadap lingkungan.Transformasi sosial sendiri diartikan sebagai perubahan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan, seperti tata nilai, pranata sosial, wawasan, cara berpikir, atau kebiasaan yang telah lama terjadi di masyarakat dan sebagainya (Dahlan, 1994: 1).Perubahan tersebut ada kalanya sangat mendasar, tetapi bisa juga bersifat umum. Transformasi sosial bukan sekadar perubahan, melainkan juga perubahan mutu kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi masyarakat.Dan rakyat China telah memulai Transformasi sosial yang dipicu oleh sabda Deng Xiaoping pada tahun 1982 yang mengatakan bahwa: kemiskinan bukan sosialisme; sosialisme berarti melenyapkan kemiskinan. Pada kesempatan lain Deng berkata: menjadi kaya itu mulia. Kata-kata tersebut ternyata telah merubah sistem nilai di Cina, akibat dari perubahan sistem nilai tersebut banyak para pejabat, kader partai, dosen-dosen perguruan tinggi hengkang ke sektor perdagangan yang menggeliatkan bisnis secara besar-besaran di Cina. Pada generasi berikutnya telah terjadi perubahan profesi sumber daya manusia terutama ilmuan yang beralih profesi dari penjaga nilai konfusian menjadi penggerak dan pembela perubahan sosial terbesar di Cina. Perkataan Deng tersebut menjadi filsafat sosial yang mempengaruhi semangat kerja, menjadi sumber inspirasi, dan merubah sikap hidup yang berorientasi pada kemajuan.
Bisa dibilang setelah berhasil memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya,kini dalam bidang pertanian china telah mengembangkan industri pertanian yang maju,terbukti dengan mudahnya kita menemui hasil produk pertanian berupa sayuran atau buah-buahan china di pasaran 
Dan sebenarnya bukan hal yang mustahil kita bisa melakukan apa yang China lakukan,terlebih kita dikaruniai kekayaan alam yang amat berlimpah,tanah yang subur dan kini semakin banyak sumber daya manusia tenaga pertanian yang handal dan bisa bersaing di dunia internasional.Namun karena adanya beberapa faktor yang kurang seperti:  teknologi pertanian, unit pengolahan, hingga Trading House (rumah dagang) serta Infrastruktur untuk menunjang aktifitas pertanian masih belum memadai,dan kebijakan dukungan modal berupa insentif belum ada.
Jika pemerintah mampu mengejar faktor ketertinggalan,dengan membuat program-program di bidang-bidang tadi dan ditambah dengan memberantas tengkulak,serta lebih mengutamakan membeli barang produksi petani kita sendiri bukan tidak mungkin kita bisa mengejar china atau bahkan mengungguli China dalam bidang pertanian.Selain itu rasa cinta akan produk dalam negeri perlu kita galakan kembali,toh sebenarnya produk kita tiak kalah bersaing dengan produk asing,karena kebanyakan rakyat kita lebih suka dengan produk asing yang dinilai lebih memiliki prestise atau juga keuntungan dari segi harganya,sebagai contoh miris,kita bisa ambil tentang produk “Pepaya California” yang begitu laris karena kualitasnya yang bagus.Namun produk ini bukanlah buatan California,Amerika Serikat melainkan buatan IPB Bogor,namun karena namanya yang berbau asing tadi pepaya jenis ini bisa laris di pasaran.Dari situ kita bisa tahu bahwa produk dengan kualitas bagus yang disukai pasar,dan karena kurangnya teknologi,infrastruktur,dan modal terkadang beberapa produk yang dihasilkan kurang bermutu baik.Jika pemerintah membenahi faktor-faktor ketertinggalan tadi bukan tidak mungkin produk pertanian Indonesia akan jadi tuan rumah di negeri sendiri. 


oleh : Anggodo Bambang K (0907058)

Selasa, 10 Januari 2012

Jepang Sebagai Negara Recycle (Meminimalisir Sampah sebagai Pembangunan Berwawasan Lingkungan)



Oleh: Ivo Fauziah      0901152

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Hal ini karena setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang atau material yang kita gunakan sehari-hari. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari pengelolaan gaya hidup masyrakat.
Sebagai salah satu negara di Asia, Jepang termasuk dalam kategori negara yang sangat produktif dalam memproduksi sampah hal ini karena Jepang yang termasuk dalam kategori negara dengan populasi sangat padat dan kebanyakan kegiatan industri serta populasinya terpusat di kota, dikatakan mempunyai rata-rata sampah padat perkotaan yang tinggi. Konsekuensinya adalah Jepang tengah menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang menekan, seperti kekurangan lahan untuk penimbunan sampah, dan ancaman kehabisan sumber daya alam untuk masa yang akan datang. Semua persoalan ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Jepang. Jika dikaji lebih dalam hal ini sepaham dengan Smith bahwa  sumber daya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumber daya yang tersedia merupakan batas maksimum bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya jika sumber daya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output. Tetapi pertumbuhan output tersebut akan berhenti jika semua sumber daya alam tersebut telah digunakan secara penuh.
Untuk dapat mempertahankan pembangunan negara di masa depan, maka pemerintah Jepang berusaha memfokuskan perhatiannya pada persoalan sampah. Sejak pertengahan abad ke-19, di Jepang, seiring dengan laju modernisasi konsentrasi populasi khususnya daerah perkotaan berkembang pesat sehingga kesehatan masyarakat menjadi masalah serius, dan penguburan sampah mulai dibatasi, di sisi lain pembakaran sampah mulai dianjurkan. Kemudian, pada tahun 1900 dibentuklah undang-undang pembuangan sampah, yang menjadikan tugas pengolahan sampah sebagai tanggung jawab pemerintah, sehingga sejak itu dimulailah era pembakaran.
Jepang boleh dibilang memiliki sistem daur ulang terbaik di dunia. Hal ini karena undang-undang Home Appliance disahkan untuk mendorong warganya dan bisnis untuk secara aktif berpartisipasi dalam daur ulang. Di Jepang 50% dari semua limbah padat didaur ulang, sebaliknya, AS hanya mendaur ulang 30%. Undang-undang tersebut mengharuskan pelanggan membayar biaya daur ulang saat membuang peralatan rumah, bahwa pengecer mengambil kembali peralatan dibuang dan mengantarkan produk ke produsen, bagi yang memproduksi memiliki proses daur ulang yang efektif untuk item tersebut. Dalam banyak situasi hukum ini mendorong perusahaan untuk membuat produk mereka lebih didaur ulang. Undang-undang mengharuskan bahwa setidaknya 55% dari setiap televisi dibuang harus didaur ulang. Dengan hukum memberikan insentif hukum dalam kombinasi dengan manfaat biaya untuk menggunakan bahan daur ulang.
Dampak Sampah Bagi Pembangunan Bangsa dengan Fenomena Sosial
Pada pertengahan era 1900 an, metode pengelolaan sampah di Indonesia dengan Jepang terlihat tidak jauh berbeda yaitu dengan menggunakan gerobak sebagai alat pengumpul sampah dan sebagian besar proses masih mengandalkan tenaga manusia. Selama ini pengelolaan sampah di Indonesia terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat. Bisa kita bandingkan dengan Kota Okayama di Jepang  yang telah mulai memilah sampah menjadi tiga jenis pada 1978 dan 14 tahun kemudian memisahkannya menjadi lima jenis sampah terbakar, sampah tidak terbakar, baterai bekas, barang daur ulang bulanan, dan barang daur ulang dua bulanan hingga saat ini. Masing- masing jenis sampah diolah dengan cara tertentu.
Terbatasnya wilayah kota Jakarta, memaksa Pemda DKI-Jakarta untuk mencari lokasi TPA di wilayah yang berbatasan diantaranya adalah kota Bekasi Kecamatan Bantar Gebang. TPA sampah Bantar Gebang mempunyai peran yang penting dalam memelihara sanitasi DKI karena TPA ini satu-satunya lahan yang menampung produksi sampah saat ini di Jakarta.
Secara psikis masyarakat Jakarta akan sangat terganggu karena bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah dimana-mana serta pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat.  Kawasan Bantar Gebang Bekasi menyebutkan, akibat dijadikan kawasan tersebut sebagai TPA, warga sekitar menuai derita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil penelitian selama kawasaan tersebut dijadikan TPA. Hal penting di sini adalah banyak penyakit akan menimbulkan Jakarta lumpuh selain dari segi kesehatan, pendidikan ataupun ekonomi dengan meningkatnya pembiayaan secara langsung misalnya untuk mengobati orang sakit dan pembiayaan secara tidak langsung serta mengakibatkan terhambatnya segala macam aktivitas masyarakat setempat seperti tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas karena kesehatan masyarakat tersebut terganggu.
Permasalahan lain jika TPA Bantar Gebang bermasalah, terutama karena demonstrasi penutupan sebagai area TPA sekitar Gebang tersebut akan membuat pembangunan ekonomi sekitar Gebang mati, misalnya ini terjadi pada pertumbuhan ekonomi dari pengusaha daur ulang sampah akan terhambat. Selain dari itu jika terjadi penumpukan sampah pada industri-industri rumah tangga maka akan mempengaruhi keterhambatan pertumbuhan ekonomi sekitar industri rumah tangga tersebut yang akan berujung pada pembangunan ekonomi di sektor usaha kecil juga akan terhambat.



Daftar Pustaka
Sumber Pustaka:
Migristine, Rinrin. (2009). Pengelolaan Sampah Plastik. Bandung: Angkasa.
Soerjani, Moh dan Rofik Ahmad.(1987). Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta: Universitas Indonesia.
Supardi. (1994). Lingkungan Hidup Kelestariannya.Bandung: Alumni.

Sumber Internet:

Setyawan, Dharma.(2011). Lingkungan Sampah Salah Siapa?.[Online] Tersedia dalam: http://www.kompasiana.com/Dharmasetyawan. [17 November 2011]

(_____).(2011). Dampak Sampah Bagi Kita. [Online] Tersedia dalam: http://balareautama.com/.[17 November 2011]

Rahman, Faisol.(2011). Tinggalkan “Proyek Sampah”!, Wujudkan Pengelolaan Sampah yang Berwawasan Lingkungan. [Online] Tersedia dalam: http://www.kompasiana.com/sollcup.[17 November 2011]

Sulistyowati. (2006). Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Dalam Pengelolaan Sampah Kota (Studi Akses Masyarakat dalam AMDAL di Lokasi TPA Ngronggo Salatiga). Tesis pada Fakultas Pascasarjana Universitas Muhamadiyah. Tidak Diterbitkan.




Senin, 09 Januari 2012

PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN THAILAND 1997-2007


Oleh : Nurhidayatina 0905947

Thailand merupakan salah satu negara yang terdapat di kawasan Asia tenggara. Dimana Negara – Negara yang ada di dalam kawasan Asia tenggara merupakan Negara – Negara yang termasuk Negara – Negara ketiga yaitu Negara yang termasuk kedalam Negara berkembang. Thailand sendiri berbatasan langsung dengan negara Myanmar, Laos, dan Kamboja.
Sekitar tahun 1985 ke 1995, Ekonomi Thailand tumbuh rata-rata 9%. Ekonomi Thailand bergantung pada ekspor, dengan nilai ekspor sekitar 60% PDB. Tenaga kerja dan sumber daya yang lumayan banyak, konsevatis fiskal, kebijakan investasi asing terbuka, dan pendorongan sektor swasta merupakan dasar dari kesuksesan ekonomi Thailand.
Sebelum krisis ekonomi, perusahaan-perusahaan domestik Thailand berlomba-lomba mendapatkan pinjaman dari luar negeri terutama mata uang US Dollar. Bagi perusahaan-perusahaan tersebut, pinjaman dari luar negeri dirasa sangat menguntungkan. Pertama karena suku bunga US Dollar lebih rendah dari pinjaman baht, dan kedua mereka merasa tidak akan ada risiko selisih kurs (karena pemerintah Thailand mematok mata uang baht terhadap US Dollar). Akibat dari kondisi ini Thailand dibanjiri oleh hutang-hutang dalam US Dollar.
Kondisi ini bukanlah kondisi yang sehat, karena mudahnya perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh dana dari luar negeri tidak diimbangi dengan kemampuan menghasilkan output yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya. Dana-dana luar tersebut banyak yang diinvestasikan pada sektor-sektor yang tingkat pengembaliannya jauh dari yang diharapkan, seperti sektor properti. Pada titik tertentu, kondisi ini tidak bisa dipertahankan lagi dan kepercayaan pada ekonomi Thailand mulai runtuh. Akibatnya investor mulai menarik dana mereka dari Thailand dan mengakibatkan US Dollar menjadi langka dan sangat mahal. Mahalnya US Dollar menyebabkan pemerintah Thailand tidak kuat lagi mematok baht pada kurs tertentu terhadap US Dollar.
Ekspor makanan jadi seperti tuna kaleng, nenas dan udang beku juga sedang meningkat. Ekonomi Thailand bergantung kepada eksport yang merupakan 60% dari pada KDNK. Kadar pertukaran asing mencapai 37.00/AS$1 (KDNK: $7.3 trilion baht) pada 26 Oktober 2006, dengan KDNK nominalnya di lingkungan AS$200 bilion pada kadar pasaran. Ini mengekalkan Thailand sebagai ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara selepas Indonesia, suatu kedudukan yang dipegangnya selama banyak tahun. Pemulihan Thailand daripada Krisis Keuangan Asia 1997-98 bergantung kepada eksport, khususnya permintaan luar Amerika Serikat dan pasaran-pasaran asing yang lain. 
Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, Thailand mengalokasikan pengeluaran yang lebih besar dari pada penerimaannya. Kebijakan ekspansif sektor fiskal itu memungkinkan permintaan domestik pada perekonomian Thailand meningkat, karena porsi belanja modal lebih tinggi dari pada belanja untuk keperluan lain, dan belanja modal itu lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan prasarana yang menyerap lapangan kerja banyak sehingga mengurangi pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduk termasuk petani yang produknya mengalami peningkatan permintaan.
Thailand ialah salah satu ahli Pertumbuhan Perdagangan Dunia (WTO), Kumpulan Cairns (pertubuhan antarabangsa untuk pengeksport pertanian), serta Pertumbuhan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA). Selain itu, Thailand giat mengejar perjanjian-perjanjian perdagangan bebas. Perjanjian Perdagangan Bebas China-Thailand yang bermula pada bulan Oktober 2003 terjadi kepada keluaran-keluaran pertanian, dengan perjanjian yang lebih menyeluruh disetujui menjelang tahun 2010. Mulai dari tahun 2003, Thailand juga mengikat sebuah Perjanjian Perdagangan Bebas dengan India,, dengan sebuah Perjanjian Perdagangan Bebas Australia-Thailand yang menyeluruh dikuatkuasakan pada 1 Januari 2005.
Bank of Thailand (BoT) kemudian membuat sejumlah kebijakan. Pada Desember 2006, BoT mengharuskan perbankan memberlakukan ketentuan bahwa 30% dari deposito mata uang luar negeri akan bebas bunga selama satu tahun. Kebijakan itu untuk mencegah investor berspekulasi terhadap Baht. Para investor yang ingin menarik investasi dalam waktu kurang dari satu tahun diharuskan membayar penalti sebesar 33% dari jumlah yang diinvestasikan. Peraturan yang berlaku juga mengharuskan investasi dilindungnilaikan terhadap perubahan mata uang selama 12 bulan dan aliran investasi jangka pendek harus dihedge sepanjang umur investasi tersebut.
Kebijakan pemerintah lain adalah investor asing harus mengurangi kepemilikan sahamnya menjadi maksimal 50% (sebelumnya tidak dibatasi) di perusahaan domestik dalam tempo paling lambat dua tahun. Saat ini terdapat 14.000 perusahaan asing yang telah menanamkan modalnya di Thailand. Jika mereka harus mendivestasi sahamnya, investor domestik belum tentu dapat menyerap saham yang akan dilepas. Kemungkinan ini menyebabkan banyak kalangan meragukan stabilitas ekonomi Thailand. Bisa jadi Thailand kembali memicu krisis finansial di Asia. Akibatnya, kebijakan kapital kontrol yang diambil tidak hanya membuat Baht berhenti menguat, tetapi juga membuat bursa saham di Thailand terkoreksi dengan tajam. Reaksi para pemodal adalah menarik dananya sehingga Baht melemah, seperti yang diharapkan pemerintah. Pelemahan itu diikuti merosotnya indeks SET yang mengalami koreksi 15%, level terburuk selama 16 tahun terakhir. Efek domino terasa di negara-negara Asia lain. Pengendalian modal itu telah memindahkan dana dari pasar modal senilai 23 miliar USD ke luar negeri.
Keberhasilan perbaiakan ekonomi Thailand dalam mewujudkan struktur ekonomi yang stabil dipengaruhi oleh dual track strategi yang dicanangkan pemerintah (leenabanchong dan panyassavatsut,2001). Strategi pertama adalah mengembalikkan pertumbuhan ekonomi untuk memulihkan kesejahteraan. Strategi kedua adalah menciptakan stabilitas dan sustainbilitas pertumbuhan ekonomi. Menurut Nimmanahaeminda, langkah – langkah Thailand dalam mewujudkan kedua tujuan diatas adalah sebagai berikut  :
1. stimulus fiscal berupa peningkatan deficit anggaran untuk infrastruktur dari 1% menjadi 5%
2. pengurangan pajak dan pemotongan tariff serta pemebentukkan jarring pengamana social
3. stabilisasi dengan pemupukan cadangan devisa serta penguatan sector keuangan melalui prinsip prudential
4. reformasi structural.
Namun, dibalik kesuksesan bangkitnya ekonomi Thailand dari keterpurukkan krisis ekonomi yang melanda Negara itu, Thailand merupakan suatu Negara yang sering terjadi konflik internal yang sangat mencekam. Situasi ini  sangat dikhawatirkan pemerintah Thailand saat itu karena ditakutkan investor – investor asing tersebut menarik semua investasinya dari Thailand yang diakibatkan sering terjadinya konflik internal. Namun, pemerintah saat itu telah salah persepsi dikarenakan walaupun konflik itu terjadi dimana – mana dalam kawasan Thailand, investasi – invsetasi dari investor asing saat itu sangat mengalir deras dan  mampu membuat Thailand mampu bangkit lagi dari keterpurukkan.
Bila dikaitkan konflik yang ada di Thailand tidak mempengaruhi perkembangan perekonomian Thailand dari tahun 1997 samapai dengan 2007 dengan teori – teori pembangunan,  dalam hal ini, teori yang dipakai  untuk menganalisis itu semua, awalnya penulis memakai teori dependensi. Yang dimana thailand sangat bergantung dengan Jepang dalam membangun perekonomiannya.
Teori dependensi perspektif atau teori ketergantungan. yang mencoba menjelaskan fenomena pembangunan di Dunia Ketiga. Negara-negara Dunia Ketiga, yang banyak sebagai negara bekas jajahan, ternyata, secara tidak sehat ,masih bergantung pada negara-negara maju bekas penjajahnya. Teori ketergantungan merupakan hasil analisis terhadap teori modernisasi. Teori ketergantungan lahir dari hasil kritikan terhadap teori pembangunan sebelumnya. Negara berkembang terlalu lambat melaksanakan pembangunan, maka diperlukan intervensi eksternal dengan penyediaan fasilitas penunjang dari negara maju. Kemudian diperkenalkan teori baru bagi pembangunan, yaitu teori sistem dunia yang merupakan reaksi atas teori dependensi. Teori ini digagas Wallerstein, yang telah menjadi realitas sekarang bahwa sistem perekonomian dunia yang muncul sebagai kekuatan yang menggerakkan negara-negara di seluruh dunia, tidak lain adalah sistem kapitalisme global.
Dalam teori sistem dunia ada 3 strategi bagi terjadinya peningkatan ekonomi negara-negara di dunia. Yakni, pertama, negara merebut kesempatan yang datang, terutama dengan memanfaatkan peluang bidang ekonomi. Kedua, negara bekerjasasama dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Ketiga, kebijaksanaan negara untuk memandirikan negara, terutama, dalam bidang ekonomi.