Tampilkan postingan dengan label Orde Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orde Baru. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU



Desi Rusmiati             (1200059)
Mira Munawaroh     (1200129)

PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU
Oleh: Mira Munawaroh

Di Indonesia, teori tahapan ekonomi Rostow pada masa Soeharto dilaksanakan sebagai landasan
pembangunan jangka panjang Indonesia yang ditetapkan secara berkala untuk waktu lima tahunan, yang terkenal dengan pembangunan 5 tahun. Dengan demikian, implementasi teori Rostow berdasarkan 5 tahap teori Rostow yaitu: masyarakat tradisional, pra kondisi tinggal landas, tinggal landas, pembangunan, konsumsi tingkat tinggi, menurut Rostow pembangunan ekonomi suatu masyarakat tradisional menuju masyarakat modern merupakan sebuah proses yang berdimensi banyak (Sadono, 2010, hal.167).
Dalam upaya melaksanakan pembangunan di bidang ekonomi, pemerintah Soeharto  atau pada masa Orde Baru melaksanakan pembangunan melalui Repelita (Rencana Pembanagunan Lima Tahun).
Dalam buku Indonesia Sejak Supersemar dijelaskan bahwa Rencana Pembanguna Lima Tahun 1969-1973 mempunyai sasaran-sasaran pokok yang pada dasarnya meliputi tiga bidang luas yaitu:    
  • Bidang materiil, yang mencakup pembangunan sektor-sktor agrarian, prasarana, industri, pertambangan dan pariwisata dengan menentukan pula penunjangan setiap usaha di bidang ekonomi pada sektor-sektor tersebut
  •   Bidag mental dan spiritual. 
  •  Bidang pertahanan dan keamanan.
Dalam pelaksanaan ketiga-tiganya dilakukan bersama-sama dan saling menunjang. Sekalipun demikian dari masalah-masalah yang hingga sekarang ada, yang terpenting adalah untuk mengatur kembali dan meningkatkan kesejahteraan rakyat (Girsang, 1973, hlm.129).
Pembangunan ekonomi pada masa Orde Baru diarahkan pada sektor pertanian. Hal ini dikarenakan kurang lebih 55% dari produksi nasional berasal dari sektor pertanian dan juga 75% pendudukan Indonesia memperoleh penghidupan dari sektor pertanian. Bidang sasaran pembangunan dalam Repelita, antara lain bidang pangan, sandang, perbaikan prasarana, ramah rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
Jangka waktu pembangunan Orde Baru dapat dibedakan atas dua macam, yaitu program pembangunan jangka pendek dan program pembangunan jangka panjang. Program pembangunan jangka pendek sering disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun), adapaun program pembangunan jangka panjang terdiri atas pembangunan jangka pendek yang saling berkesinambungan.
1.      PELITA I(1 April 1969 – 31 Maret 1974)
Sasaran dari Pelita 1, yaitu meningkatkan pangan, sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pelaksanaan Pelita 1 termasuk pembiayaan selalui disetujui DPR denang membuat Undang-Undang sesuai ketentuan UUD 1945. Keberhasilan dalam Pelita I diantaranya adalah :
a.       Produksi beras mengalami kenaikan rata-rata 4% setahun
b.      Banyak berdiri industri pupuk, semen, dan tekstil
c.       Perbaikan jalan raya
d.      Banyak dibangun pusat-pusat tenaga listrik
e.       Semakin majunya sektor pendidikan
Jika melihat pada tahapan ekonomi menurut Rostow, pada Pelita I ini masuk kedalam kategori masyarakat tradisional karena jika dilihat perekonomian  Indonesia pada saat itu bertumpu pada sektor pertanian. Produksi masih sangat terbatas dan masih bersifat statis.
2.      PELITA II (1 April 1974 – 31 Maret 1979)
Sasaran dari Pelita II adalah sandang, pangan, perumahan, srana dan prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas lapangan kerja. Untuk melaksanakan Pelita II, presiden Soeharto kemudian membentuk Kabinet Pembangunan II. Program kerja Kabinet Pembangunan II disebut Sapta Krida Kabinet Pembangunan II,  yaitu meliputi :
a.       Meningkatkan stabilitas politik
b.      Meningkatkan stabilitas keamanan
c.       Melanjutkan Pelita 1 dan melaksanakan Pelita II
d.      Meningkatkan kesejahteraan rakyat
e.       Melaksanakan pemilihan umum
Pelita II berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata penduduk 7% setahu. Perbaikan dibidang irigasi, dan juga kenaikan produksi dibidang industri. Serta banyak jalan- jalan dan jembatan yang dibangun dan diperbaiki. Pada Pelita II ini terlihat adanya peningkatan dari PElita I walaupun masih belum banyak.
3.      PELITA III (1 April 1979 – 31 Maret 1984)
Sasaran pokok Pelita III diarahkan pada trilogi pembangunan dan delapan jalur pemerataan.
A.    Trilogi pembangunan mencakup :
a.       Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
b.      Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
c.       Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis
B.     Delapan jalur pemerataan mencakup :
a.       Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan dan perumahan bagi rakyat banyak
b.      Pemerataan kesempatan memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan
c.       Pemerataan pembagian pendapatan
d.      Pemerataan memperoleh kesempatan kerja
e.       Pemerataan memperoleh kesempatan berusaha
f.       Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita
g.      Pemerataan penyebaran pembangunan di wilayah Indonesia
h.      Pemerataan memperoleh keadilan
Pada tahap Pelita III ini Indonesia mencoba untuk berada pada posisi Pra Lepas Landas yang dikemukakan oleh Rostow dalam tahapan ekonomi. Meskipun pada saat itu belum maksimal.
4.      PELITA IV (1 April 1984 – 31 Maret 1989)
Titik berat Kabinet Pembangunan IV adalah pembangunan sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri ringan maupun industri berat.
Sasaran pokok Pelita IV yaitu sebagai berikut :
a.       Bidang politik, yaitu berusaha memasyarakatkan P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengalaman Pancasila
b.      Bidang pendidikan, menekankan pada pemerataan kesempatan belajar dan meningkatkan mutu pendidikan
c.       Bidang keluarga berencana (KB), menekankan pada pengendalian laju pertumbuhan penduduk yang dapat menimbulkan masalah nasional
Pada tahun 1984 Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton dan berhasil swasembada beras. Sehingga dengan kesuksesan ini Indonesia mendapat penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985.
5.      PELITA V (1 April 1989 – 31 Maret 1994)
Titik berat Pelita V adalah meningkatkan sektor pertanian untuk memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan produksi hasil pertanian lainnya serta sektor industri, khususnya industri yang menghasilkan barang untuk ekspor, industri yang banyak tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian, dan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri menuju terwujudnya struktur ekonomi yang seimbang antara industri dengan pertanian, baik dari segi nilai tambah maupun dari segi penyeraan tenaga kerja.
Pada tahap inilah Indonesia berada pada tahap Pra Lepas Landas, dimana perkembangan ekonominya dititik beratkan pada produksi pertanian dan industri. Tujuan utama dari Pelita V yaitu untuk memantapkan dan memaksimalkan apa yang telah berhasil dicapai pada Pelita IV.
6.      PELITA VI
Pelita VI merupakan awal pembangunan jangka panjang kedua ini pada akhirnya membuat Indonesia menapaki tahap-tahap perkembangan selanjutnya, yakni tahap menuju kedewasaan dan tahap konsumsi tinggi. Tahapan menuju kedewasaan ini bisa dilihat dengan mulai munculnya industri dengan teknologi baru, misalnya industri kimia dan industri listrik.

Referensi :
Girsang,
Poesponegoro, M.D. dan Notosusanto, N. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu.
Sadono, S. (2010). Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Kencana.

REVIEWER: PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU
Oleh: Desi Rusmiati
Beradasarkan artikel yang ditulis oleh Mira Munawaroh terlihat bagaiaman Arah pembanguan Ekonomi yang terencana. Dalam pembahasanya terlihat bahwa program pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru merupakan program yang terencana dengan adanya Rencana Program Lima Tahun (REPELITA). Melalui program tersebut setiap periodenya pemerintah dapat memfokskan pembangunan dalam sektor tertentu untuk mendorongg sektor lainya mengaami pertumbuhan. Salah satu contoh yang dapat dilihat dalam tulisan Mira Munawaroh asalah Pada periode Repelita I,  lebih menitik beratkan kepada sektor pertanian terutama kepada sub sektor tanaman pangan, perhatian terhadap sektor pertanian adalah satu dar sekian banyak hal penting daam upaya awal untuk pembangunan ekonomi. Hal tersebut didasarkan karena pada waktu itu sebagian besar penduduk Indonesia masih tinggal di pedesan dengan mata pencaharian utamanya adalah bidang pertanian terutama pangan sehingga pembangunan harus ditujukan kepada peningkatan produktifitas pangan yang meningkatkan pendapatan petani dan daya beli para petani.
Selain itu penulis juga menggunakan salah satu Teori Moderniasasi dari Rostow mengenai Tahapan Pertumbuhan Ekonomi, teori ini memang banyak digunakan setelah perang digin selesai sehingga memandang bahwa hubungan kerjasama dengan Negara-negara Barat akan menguntungkan tetapi teori ini belum mampu melihat berbagai factor penghambat yang membuat pertumbuhan ekonomi di suatu negara tidak berhasil. Penulis menggunakan teori modernisasi memang tepat karena banyak negara juga menggunakan teori tersebut dan saah satunya adalah Indonesia. Namun Tahapan Pertumbuhan Ekonomi ini tidak berhasil dilakukan di Indonesia, bahkan Profesor Sarbini Sumawinata pun tidak setuju dengan teori ini (Suwarsono dan So, Y.A, 2013).
Dalam tulisannya penulis terlihat lebih menekankan kepada program Repelita tetapi terdapat kebijakan lain yang mempengaruhi perekonomian pada masa orde baru yaitu Perdagangan Internasional. Pada masa Orde Baru keran yang selama ini tertutup yaitu perdagangan dengan Negara kapitalis, pada masa Orde Baru terbuka dengan menerima berbagai bantuan luar negeri. Bahkan salah satu peristiwa yang penting di Indonesia yaitu Malari dilatar belakangi dengen membanjirnya modal asing yang terus masuk ke Indonesia. Namun hubungan bilateral dengan negara asing terutama dalam bidang ekonomi ini tidak selalu memberikan dampak yang positif seperti dalam teori Rostow, hal yang berbeda terjadi di Indonesia dengan adanya bantuan dari luar negeri ternyata menyisakan utang yang besar, disisi lain pinjaman luar negeri dibutuhkan untuk pembangunan tetapi dilain pihak dengan adanya utang luar negeri beban negara semakin meningkat sehingga Sarbini Sumawinan (dalam So, A.Y dan Sawarsono, 2013, hlm 36) mengungkapkan bahwa pemerintah belum mampu memberikan kesejahteraan.
Sektor manufaktur Indonesia yang menjadi salah satu tumpuan dalam pembangunan ternyata belum mampu menopang perkembangan perekonomian karena terlalu lemah sehingga masih membutuhkan bantuan modal dan teknologi asing. Sarbini Sumawinata juga mengungkapkan bahwa perkembangan sektor manufaktur terbentur dengan pinjaman yang sebelunya karena Indonesia diharuskan membayar bunga dan utang pokok. Beberapa tahun pertama kekuasaan Orde Baru terlihat bahwa pemerintah berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan pembangunan ekonomi, salah satunya adalah dengan terbentuknya Dewan Stabilisasi Ekonomi yang dipimpin oleh presiden (Roeder, O.G. 1985, hlm. 322). Namun sayangnya pembangunan ekonomi masih belum berjalan secara optimal karena dalam perkebangannya utang luar negeri Indonesia yang sangat besar dan para pejabat pemerintah yang melakukan tindakan korupsi.
Daftar Pustaka
Suwarsono dan Alvin Y. So. (2013). Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.
Sumawinata, S dan Kwee, T.K. dkk. (2005). Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir III. Yogyakarta: Kanisius
Roeder, O.G. (1985). Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto. Jakarta: Gunung Agung.