Desi Rusmiati (1200059)
Mira Munawaroh (1200129)
PERTUMBUHAN
EKONOMI DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU
Oleh:
Mira Munawaroh
Di Indonesia, teori
tahapan ekonomi Rostow pada masa Soeharto dilaksanakan sebagai landasan
pembangunan jangka panjang Indonesia yang ditetapkan secara berkala untuk waktu
lima tahunan, yang terkenal dengan pembangunan 5 tahun. Dengan demikian,
implementasi teori Rostow berdasarkan 5 tahap teori Rostow yaitu: masyarakat
tradisional, pra kondisi tinggal landas, tinggal landas, pembangunan, konsumsi tingkat
tinggi, menurut Rostow pembangunan ekonomi suatu masyarakat tradisional menuju
masyarakat modern merupakan sebuah proses yang berdimensi banyak (Sadono, 2010,
hal.167).
Dalam upaya
melaksanakan pembangunan di bidang ekonomi, pemerintah Soeharto atau pada masa Orde Baru melaksanakan
pembangunan melalui Repelita (Rencana Pembanagunan Lima Tahun).
Dalam buku Indonesia Sejak Supersemar dijelaskan bahwa Rencana Pembanguna Lima Tahun 1969-1973 mempunyai sasaran-sasaran pokok yang pada dasarnya meliputi tiga bidang luas yaitu:
Dalam buku Indonesia Sejak Supersemar dijelaskan bahwa Rencana Pembanguna Lima Tahun 1969-1973 mempunyai sasaran-sasaran pokok yang pada dasarnya meliputi tiga bidang luas yaitu:
Dalam
pelaksanaan ketiga-tiganya dilakukan bersama-sama dan saling menunjang.
Sekalipun demikian dari masalah-masalah yang hingga sekarang ada, yang
terpenting adalah untuk mengatur kembali dan meningkatkan kesejahteraan rakyat (Girsang,
1973, hlm.129).
Pembangunan
ekonomi pada masa Orde Baru diarahkan pada sektor pertanian. Hal ini
dikarenakan kurang lebih 55% dari produksi nasional berasal dari sektor
pertanian dan juga 75% pendudukan Indonesia memperoleh penghidupan dari sektor
pertanian. Bidang sasaran pembangunan dalam Repelita, antara lain bidang
pangan, sandang, perbaikan prasarana, ramah rakyat, perluasan lapangan kerja,
dan kesejahteraan rohani.
Jangka
waktu pembangunan Orde Baru dapat dibedakan atas dua macam, yaitu program
pembangunan jangka pendek dan program pembangunan jangka panjang. Program
pembangunan jangka pendek sering disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun),
adapaun program pembangunan jangka panjang terdiri atas pembangunan jangka
pendek yang saling berkesinambungan.
1.
PELITA
I(1 April 1969 – 31 Maret 1974)
Sasaran dari Pelita
1, yaitu meningkatkan pangan, sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakyat,
perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pelaksanaan Pelita 1
termasuk pembiayaan selalui disetujui DPR denang membuat Undang-Undang sesuai
ketentuan UUD 1945. Keberhasilan dalam Pelita I diantaranya adalah :
a. Produksi
beras mengalami kenaikan rata-rata 4% setahun
b. Banyak
berdiri industri pupuk, semen, dan tekstil
c. Perbaikan
jalan raya
d. Banyak
dibangun pusat-pusat tenaga listrik
e. Semakin
majunya sektor pendidikan
Jika melihat
pada tahapan ekonomi menurut Rostow, pada Pelita I ini masuk kedalam kategori
masyarakat tradisional karena jika dilihat perekonomian Indonesia pada saat itu bertumpu pada sektor
pertanian. Produksi masih sangat terbatas dan masih bersifat statis.
2.
PELITA
II (1 April 1974 – 31 Maret 1979)
Sasaran dari
Pelita II adalah sandang, pangan, perumahan, srana dan prasarana,
mensejahterakan rakyat, dan memperluas lapangan kerja. Untuk melaksanakan
Pelita II, presiden Soeharto kemudian membentuk Kabinet Pembangunan II. Program
kerja Kabinet Pembangunan II disebut Sapta
Krida Kabinet Pembangunan II, yaitu
meliputi :
a.
Meningkatkan stabilitas politik
b.
Meningkatkan stabilitas keamanan
c.
Melanjutkan Pelita 1 dan melaksanakan
Pelita II
d.
Meningkatkan kesejahteraan rakyat
e.
Melaksanakan pemilihan umum
Pelita II
berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata penduduk 7% setahu.
Perbaikan dibidang irigasi, dan juga kenaikan produksi dibidang industri. Serta
banyak jalan- jalan dan jembatan yang dibangun dan diperbaiki. Pada Pelita II
ini terlihat adanya peningkatan dari PElita I walaupun masih belum banyak.
3.
PELITA
III (1 April 1979 – 31 Maret 1984)
Sasaran pokok
Pelita III diarahkan pada trilogi pembangunan dan delapan jalur pemerataan.
A.
Trilogi pembangunan mencakup :
a. Pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia
b. Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi
c. Stabilitas
nasional yang sehat dan dinamis
B.
Delapan jalur pemerataan mencakup :
a. Pemerataan
pemenuhan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan dan perumahan bagi rakyat
banyak
b. Pemerataan
kesempatan memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan
c. Pemerataan
pembagian pendapatan
d. Pemerataan
memperoleh kesempatan kerja
e. Pemerataan
memperoleh kesempatan berusaha
f. Pemerataan
kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan
kaum wanita
g. Pemerataan
penyebaran pembangunan di wilayah Indonesia
h. Pemerataan
memperoleh keadilan
Pada tahap
Pelita III ini Indonesia mencoba untuk berada pada posisi Pra Lepas Landas yang
dikemukakan oleh Rostow dalam tahapan ekonomi. Meskipun pada saat itu belum
maksimal.
4.
PELITA
IV (1 April 1984 – 31 Maret 1989)
Titik berat
Kabinet Pembangunan IV adalah pembangunan sektor pertanian untuk melanjutkan
usaha-usaha menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan
mesin-mesin industri ringan maupun industri berat.
Sasaran pokok
Pelita IV yaitu sebagai berikut :
a.
Bidang politik, yaitu berusaha memasyarakatkan
P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengalaman Pancasila
b.
Bidang pendidikan, menekankan pada
pemerataan kesempatan belajar dan meningkatkan mutu pendidikan
c.
Bidang keluarga berencana (KB),
menekankan pada pengendalian laju pertumbuhan penduduk yang dapat menimbulkan
masalah nasional
Pada tahun 1984
Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton dan berhasil swasembada
beras. Sehingga dengan kesuksesan ini Indonesia mendapat penghargaan dari FAO
(Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985.
5.
PELITA
V (1 April 1989 – 31 Maret 1994)
Titik berat
Pelita V adalah meningkatkan sektor pertanian untuk memantapkan swasembada
pangan dan meningkatkan produksi hasil pertanian lainnya serta sektor industri,
khususnya industri yang menghasilkan barang untuk ekspor, industri yang banyak
tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian, dan industri yang dapat menghasilkan
mesin-mesin industri menuju terwujudnya struktur ekonomi yang seimbang antara
industri dengan pertanian, baik dari segi nilai tambah maupun dari segi
penyeraan tenaga kerja.
Pada tahap
inilah Indonesia berada pada tahap Pra Lepas Landas, dimana perkembangan
ekonominya dititik beratkan pada produksi pertanian dan industri. Tujuan utama
dari Pelita V yaitu untuk memantapkan dan memaksimalkan apa yang telah berhasil
dicapai pada Pelita IV.
6.
PELITA
VI
Pelita VI
merupakan awal pembangunan jangka panjang kedua ini pada akhirnya membuat
Indonesia menapaki tahap-tahap perkembangan selanjutnya, yakni tahap menuju
kedewasaan dan tahap konsumsi tinggi. Tahapan menuju kedewasaan ini bisa
dilihat dengan mulai munculnya industri dengan teknologi baru, misalnya
industri kimia dan industri listrik.
Referensi :
Girsang,
Poesponegoro,
M.D. dan Notosusanto, N. Sejarah Nasional
Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs.
(2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
Jakarta: Serambi Ilmu.
Sadono,
S. (2010). Ekonomi Pembangunan. Jakarta:
Kencana.
REVIEWER:
PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU
Oleh:
Desi Rusmiati
Beradasarkan
artikel yang ditulis oleh Mira Munawaroh terlihat bagaiaman Arah pembanguan
Ekonomi yang terencana. Dalam pembahasanya terlihat bahwa program pembangunan
yang dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru merupakan program yang terencana
dengan adanya Rencana Program
Lima Tahun (REPELITA). Melalui program tersebut setiap periodenya
pemerintah dapat memfokskan pembangunan dalam sektor tertentu untuk mendorongg
sektor lainya mengaami pertumbuhan. Salah satu contoh yang dapat dilihat dalam
tulisan Mira Munawaroh asalah Pada periode Repelita I, lebih menitik beratkan kepada sektor pertanian
terutama kepada sub sektor tanaman pangan, perhatian terhadap sektor pertanian
adalah satu dar sekian banyak hal penting daam upaya awal untuk pembangunan
ekonomi. Hal tersebut didasarkan karena pada waktu itu sebagian besar penduduk
Indonesia masih tinggal di pedesan dengan mata pencaharian utamanya adalah
bidang pertanian terutama pangan sehingga pembangunan harus ditujukan kepada
peningkatan produktifitas pangan yang meningkatkan pendapatan petani dan daya
beli para petani.
Selain
itu penulis juga menggunakan salah satu Teori Moderniasasi dari Rostow mengenai
Tahapan Pertumbuhan Ekonomi, teori ini memang banyak digunakan setelah perang
digin selesai sehingga memandang bahwa hubungan kerjasama dengan Negara-negara
Barat akan menguntungkan tetapi teori ini belum mampu melihat berbagai factor penghambat
yang membuat pertumbuhan ekonomi di suatu negara tidak berhasil. Penulis
menggunakan teori modernisasi memang tepat karena banyak negara juga
menggunakan teori tersebut dan saah satunya adalah Indonesia. Namun Tahapan
Pertumbuhan Ekonomi ini tidak berhasil dilakukan di Indonesia, bahkan Profesor
Sarbini Sumawinata pun tidak setuju dengan teori ini (Suwarsono dan So, Y.A,
2013).
Dalam
tulisannya penulis terlihat lebih menekankan kepada program Repelita tetapi terdapat
kebijakan lain yang mempengaruhi perekonomian pada masa orde baru yaitu Perdagangan
Internasional. Pada masa Orde Baru keran yang selama ini tertutup yaitu
perdagangan dengan Negara kapitalis, pada masa Orde Baru terbuka dengan
menerima berbagai bantuan luar negeri. Bahkan salah satu peristiwa yang penting
di Indonesia yaitu Malari dilatar belakangi dengen membanjirnya modal asing
yang terus masuk ke Indonesia. Namun hubungan bilateral dengan negara asing
terutama dalam bidang ekonomi ini tidak selalu memberikan dampak yang positif
seperti dalam teori Rostow, hal yang berbeda terjadi di Indonesia dengan adanya
bantuan dari luar negeri ternyata menyisakan utang yang besar, disisi lain
pinjaman luar negeri dibutuhkan untuk pembangunan tetapi dilain pihak dengan
adanya utang luar negeri beban negara semakin meningkat sehingga Sarbini
Sumawinan (dalam So, A.Y dan Sawarsono, 2013, hlm 36) mengungkapkan bahwa
pemerintah belum mampu memberikan kesejahteraan.
Sektor
manufaktur Indonesia yang menjadi salah satu tumpuan dalam pembangunan ternyata
belum mampu menopang perkembangan perekonomian karena terlalu lemah sehingga
masih membutuhkan bantuan modal dan teknologi asing. Sarbini Sumawinata juga
mengungkapkan bahwa perkembangan sektor manufaktur terbentur dengan pinjaman
yang sebelunya karena Indonesia diharuskan membayar bunga dan utang pokok. Beberapa
tahun pertama kekuasaan Orde Baru terlihat bahwa pemerintah berusaha dengan
sungguh-sungguh melakukan pembangunan ekonomi, salah satunya adalah dengan
terbentuknya Dewan Stabilisasi Ekonomi yang dipimpin oleh presiden (Roeder, O.G.
1985, hlm. 322). Namun sayangnya pembangunan ekonomi masih belum berjalan
secara optimal karena dalam perkebangannya utang luar negeri Indonesia yang
sangat besar dan para pejabat pemerintah yang melakukan tindakan korupsi.
Daftar Pustaka
Suwarsono dan Alvin Y. So. (2013). Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta:
LP3ES.
Sumawinata,
S dan Kwee, T.K. dkk. (2005). Pemikiran
dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir III.
Yogyakarta: Kanisius
Roeder, O.G. (1985). Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto. Jakarta: Gunung Agung.
