Senin, 04 Juni 2012

KEBUDAYAAN MASYARAKAT KOREA DARI MASA KERAJAAN KOJOSUN HINGGA MASA KERAJAAN CHOSUN


Oleh :
Ani Andriani
Widya Rakha Dania F.
Abstraksi :
K-pop fever yang dialami semua negara di belahan dunia ini menunjukkan keberhasilan kebudayaan Korea Selatan dalam ranah internasional. Kesuksesan ini merupakan kerja keras panjang bangsa Korea dalam menciptakan, mengakulturasi, mengasimilasi dan menanamkan budaya sebagai jati diri bangsanya. Dimasa kerajaan pertama (Kojosun) hingga kerajaan terakhir Korea (Chosun) merupakan perjalanan panjang sejarah yang menghasilkan banyak kebudayaan. Harta karun di masa yang panjang inilah yang menjadikan Korea khususnya Korea Selatan menjadi bangsa besar.
K-pop fever which spreading in every country in the world showing sucsessed South Korea culture in international region. This sucsessed is long hard work Korean people in creation, aculturation, asimilation and being culture as nationself. At first kingdom (Kojosun) until last kingdom of Korea (Chosun) is long journey of history which producing a lot of culture. The National Tresure in this long era (Kojosun until Chosun) be Korea especially South Korea be The Great People.

1.      Sistem Kepercayaan (Religi)
a.       Shamanisme Korea
Shamanisme Korea adalah kepercayaan asli rakyat Korea yang menggabungkan berbagai kepercayaan dan praktik yang dipengaruhi agama asli Korea, agama Buddha dan Taoisme. Pandangan religius mereka tidak tertanam pada satu agama saja, namun oleh berbagai kombinasi kepercayaan dan agama yang diimpor ke Korea.
Walaupun shamanisme Korea tidak lagi banyak pengikutnya seperti dahulu, praktik ini masih berlangsung di Korea. Di masa lalu ritual ini juga diadakan untuk meminta kelimpahan pertanian. Shamanisme Korea dicirikan dengan pengadaan upacara gut yang beraneka ragam untuk melakukan kontak antara manusia dengan alam roh. Profesi shaman biasanya cukup dapat menghasilkan banyak uang di Korea. Tradisi Shaman Korea agak serupa dengan tradisi shaman dari suku-suku di SiberiaMongolia, dan Manchuria. Shamanisme Korea berakar dari kebudayaan masyarakat pedalaman daratan yang telah berusia lebih dari 40 ribu tahun. Kata shaman disamakan dengan "dukun", "tabib", "psychopomp", mistik, dan puitis (Eliade, 1974).
Kepercayaan shamanisme juga meyakini roh-roh yang mendiami hutan, gua keramat, batu-batuan, rumah-rumah dan desa, juga hantu-hantu orang yang meninggal secara tidak wajar. Roh-roh ini dipercaya mempunyai kekuatan untuk memengaruhi atau memberi keberuntungan bagi manusia. Ritual-ritual yang dilakukan telah mengalami banyak perubahan sejak zaman Silla dan Koryo. Bahkan kepercayaan ini tak tergerus dalam masa Dinasti Chosun yang menerapkan Konfusianisme kuat.
b.      Buddhisme di Korea
Pemikir Buddhis Korea menyebar dari pengenalannya dari India lewat Cina menjadi bentuk yang khusus. Tiga Kerajaan lalu memperkenalkan agama Buddha ke Jepang. Aliran Buddhisme Korea sebagian besar menganut sekte Seon (Tiongkok:Chen, Jepang:Zen). Kuil Buddha di Korea dapat ditemukan di semua wilayah Korea dan sebagian besar berumur ratusan tahun yang dianggap sebagai warisan sejarah.
Buddhisme di Korea pertama kali diperkenalkan ke Korea dari Cina pada masa kerajaan Koguryo pada tahun 372. Setelah itu, pada tahun 384, seorang biksu dari India yang melewati Cina Selatan memperkenalkan agama Buddha ke kerajaan Baekje. Di kerajaan Silla, agama Buddha mulai diintroduksikan oleh seorang biksu Koguryo pada tahun 527 dan mulai menyebar dengan pesat sehingga berbenturan dengan kepercayaan tradisional rakyatnya. Pada awal abad ke-6, Silla mulai mengadopsi Buddhisme sebagai agama negara berkat seorang martir bernama Yi Cha-don. Agama Buddha tidak hanya dianut oleh masyarakat banyak, namun raja dan bangsawan Silla serta Baekje menjadi pengikut Buddhisme. Kebudayaan spiritual yang mereka kembangkan dengan Buddhisme telah membuat kebudayaan Tiga Kerajaan berkembang pesat. Terutama di Silla dan Baekje, agama Buddha menjadi fondasi spiritual sehingga banyak kuil dan pagoda yang dibangun. Seni Buddhisme pun berkembang pesat dan banyak patung Buddha yang dibuat. Dengan meningkatnya pengaruh Buddhisme, hubungan Korea dengan negara lain pun berkembang.
c.       Konfusianisme Korea
Salah satu hal yang memiliki pengaruh paling besar dalam sejarah pemikiran Korea adalah Konfusianisme yang diperkenalkan dari Cina. Konfusianisme adalah bagian fundamental (pembangun) dalam masyarakat Korea yang membentuk sistem moral, hubungan sosial antara orang tua dan kaum muda, dan bahkan bertahan dalam moderenisasi hukum di Korea Selatan. Konfusianisme Korea atau Yugyo adalah bentuk dari konfusianisme yang berkembang di Korea. Konfusianisme yang dibawa dari Tiongkok melalui proses pengimporan budaya telah memengaruhi sejarah intelektual dan pemikiran tradisional orang Korea modern. Paham konfusianisme telah menjadi bagian kebudayaan fundamental, yaitu sebagai pembentuk sistem moral, pola kehidupan dan hubungan sosial antar-generasi serta dasar bagi banyak sistem legal dalam masyarakat Korea.
Konfusianisme pada periode Tiga Kerajaan Paham dan kepercayaan yang pertama kali masuk ke Korea sebelum Konfusianisme adalah Budhhisme, yaitu pada zaman Tiga Kerajaan Korea (57 SM-935 M). Agama Buddha memengaruhi sistem pendidikan, moral dan politik, dan pada saat yang sama Konfusianisme dipraktekkan oleh kalangan istana. Kerajaan Koguryo yang paling dekat lokasinya dengan Tiongkok, pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddhisme. Konfusianisme pertama kali diterima di Koguryo, lalu berturut-turut ke Baekje dan Silla kemungkinan sejak abad ke-4 Masehi, saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan. Walau begitu Koguryo tetap memelihara adat istiadat dan tradisi aslinya. Di pihak lain, Baekje menerapkan paham konfusianisme secara penuh, yang membentuk sistem pemerintahan dan seni budayanya. Silla tercatat paling akhir menerima Konfusianisme untuk mengatur administrasi negaranya. Konfusianisme pada zaman Dinasti Koryo, telah melakukan beberapa peristiwa-peristiwa penting; 1) Raja Gwangjong (949 - 975) membuat sistem ujian negara (gwageo); 2) Raja Seongjang dari Goryeo (981–997) mendirikan gukjagam, yaitu perguruan tinggi yang memakai kurikulum Konfusius, contohnya seperti Perguruan Tinggi Sungkyunkwan. Ia juga membangun sebuah altar di istana sebagai penghormatan bagi leluhurnya.
Paham Konfusianisme di Chosun diterapkan sangat ketat dengan penggunaan ide dan ideal yang kentara; chung adalah kesetiaan; hyo: rasa persatuan; in: kebajikan dan sin adalah kepercayaan. Sejak 1392, saat berdirinya Chosun, Konfusianisme dianut secara mendalam oleh kaum bangsawan (yangban) dan para pejabat. Masyarakat Korea sejak lama telah mudah untuk mengikuti ajaran kepercayaan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai penganut agama. Keluarga istana adalah penganut Konfusianisme, biksu di sisi Buddhisme yang semakin terdesak, dan rakyat yang mempraktekkan shamanisme. Konfusianisme memainkan peran penting karena diterapkan secara luas pada bidang adminstrasi negara dan peraturan sosial, mengintegrasikan masyarakat yang berbudaya berdasar cara Tiongkok untuk meningkatkan transfer budaya dari negeri tersebut. Sekolah-sekolah tinggi dibangun dengan dasar dan sistem kurikulum Konfusius, dengan tenaga ahli dan ilmuwan dari Tiongkok. Perpustakaan yang besar dibuat serta adanya dukungan terhadap perkembangan seni-budaya. Kurikulum Konfusius Korea untuk akademi berkembang pesat dengan 15 buah karya utama yang tercipta. Pada abad ke-16, muncul 2 tokoh ilmuwan besar yang berpengaruh bagi perkembangan Konfusianisme, yakni Yi Hwang (1501-1570) dan Yi I (1536-1584). Kedua ahli ini sering disebut dengan nama pena Toegye dan Yulgok, yang saat ini terpampang di mata uang kertas W 1000 dan W 5000 Korea Selatan.

2.     Sistem Pengetahuan
Sistem penanggalan atau kalender Korea didasarkan pada kalender lunisolar. Kalender Korea dibagi dalam 24 titik putaran (jeolgi) yang masing-masing terdiri dari 15 hari dan digunakan untuk menentukan masa tanam atau panen pada masyarakat agraris pada zaman dahulu, namun pada saat ini tidak digunakan lagi. Kalender Gregorian diperkenalkan di Korea tahun 1895, tapi hari-hari tertentu seperti festival, upacara, kelahiran dan ulang tahun masih didasarkan pada sistem kalender lunisolar.
               Misalnya Festival terbesar di Korea antara lain:
a.         Seollal, hari pertama dari tahun bulan yang baru, yang jatuh kira-kira pada akhir Januari atau awal Februari pada kalender matahari. Seluruh keluarga berkumpul pada hari itu. Dengan berpakaian Hanbok atau pakaian terbaik mereka, seluruh keluarga melaksanakan upacara menghormati roh leluhur. Sesudah upacara, anggota keluarga yang lebih muda memberikan penghormatan secara tradisional dengan cara membungkuk dalam-dalam kepada anggota yang lebih tua keluarga yang dinamakan sebae
b.         Daeboreum, festival bulan purnama pertama. Pada hari libur ini, para petani dan nelayan berdoa meminta hasil panen dan tangkapan ikan yang melimpah, dan rumah tangga biasanya mengungkapkan keinginan untuk mengalami tahun yang penuh keberuntungan dan terhindar dari nasib buruk dengan cara mempersiapkan makanan istimewa berupa sayur-sayuran yang telah dibumbui.
c.         Dano, festival musim semi. Hari kelima pada bulan kelima tahun bulan, para petani tidak pergi ke ladang dan mengambil satu hari libur untuk mengadakan perayaan bersama untuk menandai selesainya musim semai, sedangkan para wanita mencuci rambut mereka dengan air khusus yang dibuat dengan merebus bunga iris dengan harapan mereka mampu terhindar dari kemalangan.
d.        Chuseok, festival panen raya atau festival kue bulan. Hari bulan purnama di musim gugur yang jatuh pada hari ke-15 bulan kedelapan kalender bulan, mungkin merupakan hari raya yang paling ditunggu-tunggu bagi rakyat Korea masa kini. Anggota keluarga berkumpul bersama, memberikan penghormatan pada nenek moyang mereka, serta mengunjungi makam leluhur.

3.    Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
a.              Rumah
Hanok, rumah tradisional Korea, memiliki bentuk yang tidak berubah dari masa Tiga Kerajaan sampai akhir periode Dinasti Chosun (1392 –1910). Yang unik dari Hanok adalah ondol, sistem pemanasan bawah lantai khas Korea, digunakan untuk pertama kalinya di daerah utara. Asap dan panas yang dihasilkan oleh kompor-kompor dapur di atas tanah disalurkan melalui pipa asap yang dibangun di bawah lantai. Di daerah selatan yang lebih hangat, ondol digunakan bersama dengan lantai kayu. Bahan baku utama rumah-rumah tradisional adalah tanah liat dan kayu. Giwa, atau genteng atap beralur hitam, dibuat dari tanah, biasanya tanah liat warna merah.
Hanok dibangun tidak menggunakan paku namun kayu-kayunya disatukan menggunakan pasak-pasak kayu. Rumah-rumah untuk kaum kelas atas terdiri dari sejumlah bangunan terpisah, satu untuk menampung wanita dan anak-anak, satu untuk kaum laki-laki dalam keluarga dan tamu-tamu mereka, dan bangunan lain untuk para pembantu, yang semuanya dikelilingi oleh sebuah tembok. Tempat ibadah keluarga untuk menghormati arwah nenek moyang dibangun di belakang rumah.  Sebuah kolam dengan bunga teratai kadang-kadang dibuat di depan rumah di luar tembok.
Bentuk rumah-rumah ini berbeda antara daerah utara yang lebih dingin dengan daerah selatan yang lebih hangat. Rumah-rumah sederhana dengan lantai berbentuk persegi panjang, dapur, serta sebuah kamar di tiap sisinya berkembang menjadi rumah berbentuk huruf L di daerah selatan. Hanok pada perkembangannya berubah bentuk menjadi mirip huruf U atau kotak yang mengelilingi sebuah halaman.
Hanok memilih tempat berdasarkan geomansi. Orang Korea meyakini bahwa beberapa bentuk topografi atau suatu tempat memiliki energi baik dan buruk yang harus diseimbangkan. Geomansi memengaruhi bentuk bangunan, arah, serta bahan-bahan yang digunakan untuk membangunnya. Rumah menurut kepercayaan mereka harus dibangun berlawanan dengan gunung dan menghadap selatan untuk menerima sebanyak mungkin cahaya matahari. Cara ini masih sering dijumpai dalam kehidupan modern saat ini.
b.             Pakaian
Pakaian tradisional Korea disebut Hanbok (Korea Utara menyebut Choson-ot). Hanbok terbagi atas baju bagian atas (Jeogori), celana panjang untuk laki-laki (baji) dan rok wanita (Chima). Orang Korea berpakaian sesuai dengan status sosial mereka sehingga pakaian merupakan hal penting. Orang-orang dengan status tinggi serta keluarga kerajaan menikmati pakaian yang mewah dan perhiasan-perhiasan yang umumnya tidak bisa dibeli golongan rakyat bawah yang hidup miskin. Dahulu, Hanbok diklasifikasikan untuk penggunaan sehari-hari, upacara dan peristiwa-peristiwa tertentu. Hanbok untuk upacara dipakai dalam peristiwa formal seperti ulang tahun anak pertama (doljanchi), pernikahan atau upacara kematian.
c.              Bangunan dan Situs Bersejarah
Kuil Jongmyo Kuil Jongmyo yang terletak di jantung kota Seoul dijadikan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1995. Kuil ini dibangun untuk menyimpan tablet-tablet memorial anggota mendiang penguasa (Dinasti Chosun) yang didasarkan pada tradisi Konfusianisme. Setiap tahun pada bulan Mei diadakan upacara Jongmyo (Jongmyo Daeje) yang menampilkan upacara persembahan dan tarian. Pertama dibangun tahun1394 dan terbakar tahun 1592 ketika Jepang menyerang Korea, lalu pada tahun 1608 dibangun kembali. Kuil ini berisi 19 buah tablet memorial para raja dan 30 tablet ratu yang ditempatkan di dalam 19 buah kamar.
Istana Changdeok Changdeokgung atau “Istana Kebajikan Mulia” dibangun tahun 1405 dan musnah dilalap api pada tahun 1592 akibat invasi Jepang, dan direkonstruksi kembali pada tahun 1609. Lebih dari 300 tahun Istana Changdeok adalah pusat kedudukan kerajaan. Istana Changdeok dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1997.
Tripitaka Koreana dan Haeinsa Haeinsa adalah kuil Buddha tempat penyimpanan kitab suci Tripitaka Koreana. Dibangun pada tahun 802 M di puncak Gunung Gaya di propinsi Gyeongsang Selatan. Tripitaka Koreana adalah kitab suci Buddha yang tersusun dari ukiran tulisan di blok-blok kayu, berjumlah 81.258 buah blok kayu yang tersusun rapi. Semua tulisannya diukir dalam aksara Tionghoa (hanja).
Hwaseong Benteng Hwaseong adalah sebuah benteng yang dibangun pada masa Dinasti Chosun yang terletak di kota Suwon, propinsi Gyeonggi. Rekonstruksinya diselesaikan pada tahun 1796 dan melingkupi pada tanah yang datar dan bukit-bukit sepanjang 5,52 km. Benteng ini memiliki 4 gerbang utama, sebuah gerbang air, 4 gerbang rahasia, dan sebuah menara suar.
Kota Gyeongju adalah ibukota kerajaan Silla dimana masih terdapat kompleks makam penguasa Silla yang berbentuk bukit-bukit besar. Wilayah Namsan terkenal akan artefak-artefak Silla yang berharga seperti mahkota emas, perhiasan, kuil-kuil Buddha, pagoda dan arca-arca yang umumnya berasal dari abad 7 sampai abad ke 10 Masehi. Komplek Makam Koguryo berada di wilayah negara Korea Utara, seperti di Pyongyang, propinsi Pyongan Selatan, dan kota Nampo (Hwanghae Selatan).

4.    Mata pencaharian dan sistem ekonomi
Sebenarnya sejak masa neolitikum pertanian sudah mulai dikenal dan mulai dikembangkan lebih maju lagi menggunakan alat besi di masa Kojosun. Tetapi pada masa unifikasi tiga kerajaan, keadaan para petani berada dalam golongan menengah setelah golongan bangsawan dan raja. Mereka harus memenuhi berbagai pajak dan harus memenuhi panggilan raja sebagai tenaga kerja. Sehingga pertanian kurang berkembang. Tetapi dengan adanya sarana irigasi menyelamatkan industri pertanian di masa 3 kerajaan ini. Perekonomian di masa unifikasi 3 kerajaan berlandaskan kepentingan kaum ningrat. Kaum bangsawan menerima sejumlah tanah yang luas dari raja dan mereka pun memiliki banyak budak dikarenakan pemberian uang dan bunga tinggi.
Di masa Koguryo, kerajaan banyak membantu kaum petani, yakni dengan adanya sistem Jindaebub yakni memberi pinjaman bahan pangan pada musim semi dan menerima pengembaliannya pada musim panen. Hasil panen banyak berasal dari ladang seperti kacang-kacangan. Mata pencaharian dalam bidang perikanan, peternakan, perdagangan dan industri kerajinan tangan mulai dikembangkan.
Pada masa kerajaan Koryo perdagangan mulai berkembang pesat dan mulai melakukan perdagangan bilateral dengan kerajaan Sung. Koryo mengekspor emas, perak, ginseng, tikar dan mengimpor sutra. Dengan suku Khitan dan Nuzhen di Manchuria dan utara semenanjung Korea, Koryo mengekspor bahan pangan dan alat-alat tulis dan mengimpor perak dan kulit binatang. Kerajaan koryo pun telah melakukan kontak dengan dunia islam dengan mengekspor emas dan kain sutera serta mengimpor air raksa. Dengan pertukaran kegiatan perdagangan ini nama Koryo mulai dikenal dengan Korea oleh dunia barat. Di masa Koryo pun mulai diedarkannya mata uang.


5.    Sistem kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan Patriarkhi menimbulkan status sosial yang dipecah-pecah dalam sistem kasta. Kelompok teratas dipegang oleh raja beserta keluarganya besrta bangsawan, kelompok menengah diisi pendudu yang sebagian besar petani, yang ketiga ialah kaum rendahan yaitu budak. Kelompok menengah dan rendah tinggal di daerah khusus yaitu Hyang, So dan Bugok. Di masa kerajaan Chosun, aliran Konghuchu menjadi landasan bagi negara sehingga negara berusaha menekankan rakyatnya untuk mengikuti Konghuchu dan meninggalkan Buddha yang telah dianut masyarakat. 


6.    Bahasa
Bahasa Korea termasuk rumpun Altaik, bahasa Altaik meliputi bahasa Turki, Mongolia, Tungusik dan sebagainya mulai dari Siberia sampai Sungai Volga.  Alasan bahasa Korea dipercaya termasuk rumpun Altaik, adalah karena bahasa Korea mempunyai kecirikhasan susunan yang sama dengan bahasa lain yang tergolong rumpun Altaik. 
Akibat semenanjung Korea terbagi cukup lama, heterogenitas bahasa antara Korea Selatan dan Korea Utara makin meningkat. Namun, perbedaan bahasa antar Korea, terdapat hanya dari makna kosakata, contoh penggunaan kosakata, istilah baru dan sebagainya, maka tidak ada masalah apa pun dalam komunikasi. Korea Selatan dan Korea Utara berusaha keras untuk mengatasi heterogenitas bahasa seperti itu, misalnya para pakar bahasa Korea Selatan dan Korea Utara bekerjasama meneliti bahasa. Dialek bahasa Korea biasanya terdiri dari 6 jenis, yaitu :
a.    Dialek daerah timur laut = di propinsi Hamgyeong Utara, propinsi Hamgyeong Selatan dan propinsi Yanggang di Korea Utara
b.    Dialek daerah barat laut = di propinsi Pyeongan Utara, propinsi Pyeongan Selatan, propinsi Jagang, dan daerah bagian utara propinsi Hwanghae di Korea Utara
c.    Dialek daerah tenggara = di propinsi Kyeongsang Utara, propinsi Kyeongsang Selatan, dan sekitarnya.
d.   Dialek daerah barat daya = di propinsi Cheola Utara, dan propinsi Cheola Selatan
e.    Dialek pulau Jeju = di pulau Jeju dan pulau-pulau sekitarnya
f.     Dialek bagian tengah = di propinsi Kyeonggi, propinsi Chungcheong Utara, Chungcheong Selatan, propinsi Kangwon, dan propinsi Hwanghae
Huruf Korea, Hangeul diciptakan oleh raja ke-4 di masa kerajaan Chosun, Raja Agung Sejong di tahun 1443 lalu, hingga diamanatkan di tahun 1446. Nama huruf Korea saat itu merupakan 'Hunminjeongeum' berarti 'tulisan untuk rakyat', yang akan menjadikan pembacaan dan penulisan bahasa Korea menjadi suatu urusan yang mudah bagi semua orang, tidak tertentu kelasnya. Huruf Korea terdiri dari 17 huruf konsonan dan 11 huruf vokal yang digabung untuk membentuk suku kata.
Meskipun Hunminjeongeum diamanatkan, namun dokumen resmi tetap dicatat dalam huruf Cina. Setelah titah raja berisi huruf Korea harus dipakai sebagai pengganti huruf Cina, yang dikeluarkan di bulan Nopember tahun 1894, huruf Korea menjadi bahasa negara yang resmi setelah 450 tahun berlalu sejak Hunminjeongeum diciptakan. 
Nama 'Hangeul' diciptakan oleh sarjana Ju Shi-kyeong, hingga dipakai sejak tahun 1913 lalu. Setelah itu, nama 'Hangeul' disebarluaskan setelah majalah rutin berjudul 'Hangeul' diterbitkan tahun 1927. 'Hangeul' bermakna 'bahasa untuk bangsa Korea', 'bahasa agung', dan 'bahasa terunggul di dunia', hingga sama dengan makna istilah Hunminjeongeum. Sesuai dengan yang ditetapkan oleh Institut Pengkajian Bahasa Korea tahun 1933, 4 huruf dari 28 huruf yang aslinya diciptakan, dihapuskan, hingga menjadi 24 huruf, yaitu 14 huruf konsonan dan 10 huruf vokal.

7.    Kesenian
a.              Seni Musik dan Seni Tari
Musik dan tarian merupakan sarana ibadah, dan tradisi ini berlanjut terus selama periode Tiga Kerajaan. Lebih dari 30 alat musik digunakan dalam periode ini, dan satu yang khususnya patut dicatat adalah hyeonhakgeum (sitar berbentuk seperti burung bangau berwarna hitam), yang diciptakan oleh Wang San-ak dari Koguryo dengan mengubah sitar bersenar tujuh dari Dinasti Jin dari Cina.  Alat musik gayageum yang terdiri dari 12 senar masih dimainkan di Korea modern. Koryo mengikuti tradisi musik Silla pada tahun-tahun awalnya, namun selanjutnya Koryo memiliki aliran-aliran yang lebih beragam. Ada tiga jenis musik di Koryo, yakni Dangak yang berarti musik dari Dinasti Tang di Cina, Hyangak atau musik pedesaan, dan Aak atau musik istana.
Beberapa jenis musik Koryo merupakan warisan dari Dinasti Chosun dan masih digunakan dalam upacara-upacara masa ini, terutama upacara-upacara yang melibatkan pemujaan pada nenek moyang. Seperti halnya pada musik, pada mulanya Koryo juga menikmati tradisi tarian dari Tiga Kerajaan, namun kemudian Koryo menambahkan jenis - jenis lain dengan diperkenalkannya tarian istana dan tarian keagamaan dari Dinasti Song di Cina. Pada jaman Dinasti Chosun, musik dihargai sebagai unsur utama ritual keagamaan dan upacara-upacara. Sejak awal munculnya dinasti ini, dua lembaga yang menangani masalah musik didirikan dan upaya-upaya ditempuh untuk menyusun komposisi-komposisi musik. Hasilnya, sebuah kitab musik yang dikenal sebagai Akhakgwe-beom diterbitkan pada tahun 1493. Buku ini mengelompokkan musik yang akan dimainkan di istana menjadi tiga kategori yakni, musik upacara, musik Cina, dan musik pribumi. Terutama di saat Raja Sejong berkuasa, banyak alat musik baru dikembangkan. Di samping musik istana, tradisi musik sekuler seperti Dangak dan Hyangak terus berlanjut. Tari-tarian rakyat, termasuk tarian petani, tarian dukun, dan tarian biarawan, menjadi populer di kemudian hari pada periode periode Chosun, seiring dengan populernya tarian topeng yang dikenal dengan nama Sandaenori dan tarian boneka.
Tari topeng ini menggabungkan tarian dengan lagu dan cerita serta memasukkan unsur - unsur shamanisme yang sangat menarik bagi rakyat biasa. Sebaliknya, pengaruh-pengaruh Konfusius dan Budha sangat menonjol pada tarian tradisional. Pengaruh Konfusianisme bersifat represif, sedangkan pengaruh Budha mengijinkan sikap yang lebih toleran seperti ditunjukkan pada tari-tarian istana yang sangat indah serta tari-tarian shaman yang ditujukan bagi orang yang telah meninggal.
b.             Seni Rupa
Lukisan dinding pada makam-makam Koguryo, yang kebanyakan ditemukan di sekitar Jiban dan Pyongyang, menunjukkan kebesaran seni kerajaan ini. Lukisan-lukisan dinding pada keempat dinding dan langit-langit ruang penguburan menampilkan gambar-gambar dengan warna cerah dan gerakan penuh energi dan dinamis, menggambarkan pemikiran - pemikiran mengenai kehidupan di bumi dan di dunia sesudah kematian. Seni Baekje terutama ditandai oleh permukaan yang halus serta senyum-senyum yang hangat seperti ditemukan pada gambar tiga serangkai Budha yang dipahat pada batu di Seosan.
Benang-benang dari emas serta biji-biji emas yang ditemukan di dalam makam bersamadengan perhiasan-perhiasan yang amat indah membuktikan keterampilan artistik yang sangat tinggi dari kerajaan ini. Sementara itu, pengakuan resmi akan agama Budha sepanjang pemerintahan Tiga Kerajaan berujung pada dibuatnya dibuatnya patung-patung Budha. Salah satu contoh utama adalah patung Maitreya (Budha Masa Depan) yang duduk dalam meditasi dengan salah satu jarinya menyentuh pipi.
Kerajaan Silla Bersatu (676 – 935) mengembangkan suatu budaya artistik yang telah diperindah dengan selera internasional yang kuat sebagai akibat dilakukannya pertukaran - pertukaran dengan Dinasti Tang dari Cina (618 – 907). Meski demikian, tetap saja agama Budha menjadi kekuatan pendorong utama di balik perkembangan budaya Kerajaan Silla. Gua Seokguram, contoh sempurna seni rupa Kerajaan Silla Bersatu, merupakan mahakarya yang tidak ada bandingannya karena patung-patungnya yang megah, ungkapan-ungkapannya yang realistis, serta bagian-bagiannya yang khas.
Di samping itu, para pengrajin Kerajaan Silla juga sangat mahir dalam membuat lonceng kuil. Lonceng-lonceng perunggu seperti Lonceng Ilahi milik Raja Seongdeok yang dibuat pada akhir abad ke-8 terkenal karena desainnya yang elegan, suaranya yang nyaring, serta bentuknya yang sangat besar.
Nilai artistik Kerajaan Koryo (918 –- 1392) dapat dilihat dari barang-barang seladon. Warna hijau seperti pada batu permata jade, disain yang elegan, dan berbagai macam seladon Koryo merupakan keindahan yang sangat tinggi dan berbeda dari keramik - keramik buatan Cina.
Sampai paruh pertama abad ke-12, seladon Koryo dikenal karena warnanya yang bersih, sedangkan pada paruh kedua abad tersebut teknik menoreh desain pada tanah liat dan mengisi ceruk-ceruknya dengan tanah liat lunak warna putih atau hitam menjadi ciri utamanya.
Buncheong, periuk yang terbuat dari tanah liat berwarna abu-abu dan dihiasi dengan lapisan tanah liat lunak warna putih, merupakan jenis keramik yang dibuat pada masa Dinasti Chosun. Keramik ini dilapisi oleh lapisan berwarna biru keabu-abuan yang mirip dengan jenis seladon. Yang juga menjadi produk khas dari jaman ini adalah porselen porselen warna biru dan putih. Digunakan oleh rakyat biasa dalam kehidupan sehari-hari mereka, barang-barang Buncheong dihiasi oleh pola-pola bebas. Porselen putih, yang menunjukkan harmoni yang sempurna antara lekukan-lekukan dan nadanada warna yang halus merupakan contoh puncak keindahan seni. Dimulai pada pertengahan abad ke-15, porselen biru dan putih mulai menunjukkan nilai estetik yang tinggi berkat polapola menawan yang dilukis pada zat warna kobalt berwarna biru pada seluruh permukaan porselen.
c.              Seni Lukis
Walupun pelukis-pelukis Korea menunjukkan tingkat keterampilan tertentu yang terakumulasi sejak masa Tiga Kerajaan, sebagian besar lukisan yang dibuat telah musnah karena dilukis di atas kertas. Akibatnya, hanya mungkin bagi kita untuk mengapresiasi lukisan-lukisan dari masa itu dengan jumlah sangat terbatas, seperti misalnya lukisan-lukisan pada dinding makam.
Selain lukisan-lukisan dinding Koguryo, ubin-ubin lanskap Baekje dan Lukisan Kuda Terbang dari Kerajaan Silla menjadi bukti kekhasan dan kualitas lukisan-lukisan dari masa Tiga Kerajaan. Karya-karya ini menunjukkan garis-garis penuh energi dan berani serta komposisi yang sangat teratur, yang merupakan ciri-ciri khusus periode ini.  Garis-garis yang sangat halus dan hidup menjadi ciri lukisan-lukisan ilustrasi ini. Baik lukisan-lukisan dekoratif maupun lukisan-lukisan agama Budha mencapai puncaknya pada masa Dinasti Koryo. Dalam periode ini, bermacam jenis lukisan dibuat. Lukisan-lukisan dari periode ini yang masih ada sampai sekarang terutama lukisan-lukisan agama Budha dari abad ke-13 dan 14.
Prestasi terbesar dalam seni lukis Korea terjadi pada periode Dinasti Chosun. Para pelukis profesional yang terlatih serta para seniman terpelajar memainkan peran utama dalam perkembangan seni lukis Korea. Kecenderungan ini bisa dilihat pada lukisan-lukisan lanskap dengan tema-tema sekuler. Jeong Seon (1676 – 1758) dan Kim Hong-do (1745 – 1816) dianggap sebagai dua pelukis utama pada periode ini.
Jeong Seon mengisi kanvasnya dengan pemandangan indah gunung-gunung di Korea berdasarkan gaya lukis Aliran Selatan dari Cina, sehingga ia mampu menciptakan gaya lukis Korea yang khas. Ia telah memberikan pengaruh pada seniman Korea mana pun dalam perkembangan selera seni kaum terpelajar pada masanya, dan hal ini terus berlanjut sampai sekarang. Salah satu mahakaryanya adalah ”Pemandangan Panoramik Pegunungan Geumgang.”
Sementara itu, lukisan-lukisan Kim Hongdo sangat dihargai karena ia mampu menangkap kehidupan sederhana para petani, pengrajin, dan pedagang. Penggambarannya yang seksama namun penuh humor sangatlah menonjol. Pada tahun-tahun terakhir Dinasti Chosun, gaya-gaya seni lukis Korea semakin berkembang. Para pelukis yang tidak memperoleh latihan sebelumnya justru muncul sebagai penghasil lukisan-lukisan rakyat yang sangat aktif, dengan konsumen yang juga berasal dari rakyat biasa. Lukisan-lukisan rakyat ini menampilkan penggunaan warna-warna cerah yang bebas serta desain yang disederhanakan dan telah distilisasi atau tidak menggunakan bentuk-bentuk natural.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kebudayan Korea. [online]. Tersedia : http://world.kbs.co.kr/indonesian/korea/korea_abouttour.htm
Kebudayaan Korea. [online]. Tersedia : http://id.korean-culture.org/welcome.do
Sejarah Korea. [online]. Tersedia : www. wikipedia. co. id.
Surajaya, I Ketut.  (2006). Pengantar Sejarah Korea(Kompilasi danTerjemahan). Depok: UI,
World Compugraphic. (Eds) (1995). Sejarah Korea. Seoul : Radio Korea Internasional, Kbs. National Institute For Internasional Education Development Ministry Of Education Of Korea.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar